IP address tidak bisa dijadikan acuan lokasi

beberapa waktu lalu pitra post keheranannya kenapa di analytics di instagram/facebook menampilkan kota sidoarjo sebagai salah satu kota yang paling banyak mengakses foto/campaign-nya dia, sementara tidak ada kota surabaya di top 5 nya.

dari beberapa respon, terutama dari yang mengerti sisi networking dan telekomunikasi, disampaikan itu dikarenakan IP address (IP public) gateway dari si penyedia layanan (internet) tidak up to date. misalnya ada IP address yang jika dilookup ada di tengah laut.

kesimpulannya, network engineer dari penyedia layanan tampaknya tidak tertib mengupdate/mendaftarkan perangkat mereka dengan lokasi yang tepat.

kemudian karena gue penasaran, gue minta tolong tyaz di surabaya untuk check IP address dia berapa, trus kemudian gue coba lookup lokasinya.

untuk mendapatkan IP public dari perangkat yang sedang kita pakai, jika misalnya handphone, googling aja dengan keyword “what is my IP address?” nanti si google akan ngasih tau IP public yang tersambung dengan gawai elo apa.

what is my IP address
Google my IP address

kemudian tyaz ngasi IP address yang setelah gue lookup ternyata benar IP address tersebut lokasinya di surabaya.

IPsurabayatelkomnetScreenshot_2017-09-13-18-44-22-020_com.android.chrome.png

lalu dia coba disconnect dari wi-fi, kemudian dia pakai koneksi data cellularnya. dari kartu telkomsel, masih menunjukkan IP address surabaya. tapi ketika koneksinya pakai XL, IP addressnya diakui sebagai IP jakarta.

ipjakartaScreenshot_2017-09-13-18-49-47-229_com.android.chrome.png

nah, kalau begitu pendataan lokasi menggunakan IP address dari gawai tidak akurat. selama informasinya tidak dikoreksi oleh network engineernya penyedia layanan internet, ya melenceng, data yang terkumpul tidak akurat.

yang sangat disayangkan, kalau ternyata IP address digunakan untuk kepentingan darurat, seperti yang disampaikan @jogja

ketika kemudian butuh supaya pengiriman informasi tepat pada orang-orang di lokasi yang dituju, jadinya informasinya salah penerima.

Trying to determine physical location from internet based information, such as Wi-Fi access points and IP addressing, is notoriously inaccurate

related post:
does IP address geolocation really work?
Location detection is wrong

pertama kali ke ikea

akhirnya kesampaian juga datang ke ikea sebagaimana layaknya penduduk jakarta dan sekitarnya*) 😀

datang beberapa menit sebelum jam buka (buka jam 10 pagi), parkiran masih lega.

begitu masuk, mata disuguhi oleh ‘lukisan’ dinding yang di pajang berderet-deret.

wall painting

dan juga barang barang yang unik terlihat mata

bangku
baki

dari awal masuk disuguhi interior design, entah itu ruang tamu, sofa/kursi tamu, kitchen set, kamar tidur,  sampai ada ‘simulasi’ kalau elo punya rumah mungil yang cuma sekian meter kali sekian meter, bisa koq dibuat nyaman.

ruang tidur

jadi seperti tweet gue ini, elo merem sambil nunjuk pasti yang elo tunjuk itu bagus.
trus kalo elo mau beli, paling pas deh kalo beli sepaket dari yang di display.

nah begitu elo udah pilah pilih, tandain di kertas dan pensil yang disediakan, nanti tinggal ambil barangnya di rak

rak barang

dan tentu saja elo rakit sendiri ya! :d

dan setelah berbelanja, tidak lupa untuk nyicipi hotdog dan es krim cone nya yang tenar, cuma 5000an ajah

food sign
hotdog

*)bahkan ikea juga didatangi oleh orang orang dari luar pulau jawa

driver online

salah satu yang jadi kehandalan transportasi online semacam uber, go-jek, grab adalah kemudahan. kemudahan buat penumpang dan kemudahan buat supir.

car
cars

beberapa bulan lalu ketemu dodo, dia dengan semangat cerita bahwa dia ambil keputusan resign untuk menjadi full-time driver dari salah satu perusahaan transportasi online di sini.
dia mengambil keputusan tersebut tentu dengan segala pertimbangannya. yang diantaranya beberapa rekan kerjanya yang kemudian pivot jadi driver transportasi online bisa survived.

beberapa minggu lalu bertemu lagi dengan dodo, dia bilang sudah tidak lagi ‘narik’.
dia bilang segala macam aturan menghambat dia untuk mencairkan uang dari accountnya.

ketika segala macam promo non-tunai ditebar perusahaan transportasi online, di sanalah dia kesusahan.

selama ini gue menyangka apa yang menjadi hak driver itu sekian persen akan cair tanpa babibu dan tanpa tetek bengek achievement. tapi ternyata itulah yang terjadi.

misal, ketika penumpang membayar dengan non-tunai, maka uang tersebut akan mengendap di account driver, sampai dia memenuhi kriteria minggu tersebut; misalnya tidak men-cancel lebih dari 20%, harus melakukan perjalanan (rit) 20 kali dalam seminggu.
barulah uang tersebut bisa cair. tapi jika tidak tercapai, maka uang itu tetap mengendap di account tersebut.
[catatan: 20% dan 20 kali adalah contoh, bukan kenyataaan. karena kenyataannya bisa saja angka tersebut lebih besar.

kalaulah bonus yang tertahan karena tidak achieve persyaratan tertentu, masih wajar. tapi kalau uang dalam bentuk non-tunai pembayaran penumpang juga susah diambil, wah parah.
ditambah lagi aturan achievement berubah-ubah setiap waktu. bisa jadi ga jelas mana yang bisa dicairkan, dan mana bagian untuk perusahaan.

 

 

Older posts