naik kereta jarak jauh bukanlah pengalaman pertama kali, karena beberapa tahun lalu langganan kereta parahyangan jakarta-bandung pp. namun kali ini akan naik kereta ke jawa timur dan perjalanan malam ditambah cerita-cerita tidak mengenakan bikin was-was juga.

untuk kereta luar kota dilayani dari stasiun pasar senen dan stasiun gambir. stasiun senen untuk ekonomi, dan stasiun gambir untuk eksekutif/bisnis.

gue kalo ngebayangin stasiun senen, maka yang kebayang adalah stasiun yang kumuh, tapi saat ini sudah berubah jauh. lebih tertib. untuk bisa masuk peron baru bisa menjelang (kira kira 1 jam) sebelum jam keberangkatan.

dan juga lebih jelas, di stasiun senen ini, peronnya sudah diarahkan dari semenjak pemeriksaan karcis di pintu masuk peron, sehingga tidak mungkin salah peron.

ketika masuk gerbong, ternyata ber-ac, walaupun kereta ekonomi.
bentuk bangku yang hadap-hadapan juga mirip seperti kereta parahyangan dulu. bangkunya pun tegak (bukan reclining seat) - nah kebayang akan menjalani 11 jam perjalanan dengan bangku begitu ;(

oh iya, pembelian tiket kereta sekarang ini online. atau di gerai-gerai minimarket atau travel agent. namun tiket asli baru bisa dicetak di stasiun keberangkatan. sehingga baiknya ambil spare jam beberapa saat sebelum berangkat untuk mencetak tiket.
cetak tiket dilakukan secara self-service, dengan men-scan barcode/QR code dari print out tanda pembelian tiket, maka tiket akan tercetak.

kereta berangkat on-time, dan langsung diperiksa tiketnya oleh petugas yang didampingi polsuska.
dan ga lama kemudian pramugara dan pramugari kereta lewat lewat menawarkan teh, kopi, dan makan malam.

tidur di lorong gerbong photo IMG_20150508_213933_zpspmuurjke.jpg
ketika menjelang jam 8 malam, satu dua penumpang tampak mengambil tas mereka, dan mereka menggelar koran di lorong. dan ada yang lebih prepare dengan membawa semacam tikar tidur tipis, bahkan ada yang bawa penutup muka. tampaknya mereka akan tidur di lorong.
astaga, ini pertama kalinya gue ngeliat begini.
buat gue ini sama sekali mengganggu. kalo ada penumpang wanita yang pake rok gimana? khan risih banget.
sudahlah duduk hadap-hadapan dengan orang tidak dikenal, mau nyelonjorin kaki aja rikuh, lah ini malah tidur di bawah.

tapi tampaknya penumpang 'reguler' kereta sudah paham, jadi mereka serba tahu sama tahu aja. beda dengan gue yang baru pertama kali naik kereta malam gini.

nah salah satu kewas-wasan kita adalah, karena diinfokan para penumpang tidur di lorong ini disinyalir juga sering mencari kesempatan untuk mengutil barang-barang yang terletak di bawah.
walhasil selama perjalanan gue susah banget untuk tidur. selain karena memang sangat susah tidur sambil duduk tegak

tapi jelas menganggu banget para penumpang yang tidur di lorong ini, orang lewat kesusahan, kalo keinjek mungkin ga terlalu, kalo kesiram kopi panas gimana?

selama perjalanan kereta ini berhenti di beberapa stasiun untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. jadi kalau ada bangku yang terlihat kosong, kemungkinan besar penumpangnya akan naik di stasiun-stasiun berikutnya. atau bahkan bangku yang baru ditinggalkan penumpangnya turun, akan langsung terisi.

dan penumpang baru akan langsung diperiksa karcisnya sesaat setelah kereta bergerak.
petugas akan langsung tahu kursi penumpang baru berkat gadget yang ditenteng-tentengnya. jadi ga perlu cari-cari lagi mana yang baru mana yang lama.

dan kalo ternyata tiket terselip atau bahkan hilang, kita masih ada kemungkinan tidak terkena denda atau bahkan ditendang keluar kereta, selama bisa menujukkan ktp.
karena ketika membeli tiket ada isian nomor identitas.
jadi, selama masih bisa menunjukkan ktp, semuanya terkendali.

perjalanan malam membosankan, karena tidak bisa ada yang dilihat keluar jendela. berbeda ketika pulang kembali ke jakarta, kita menggunakan kereta siang,
pemandangan masih bisa menghibur walaupun kadang tetap terkantuk kantuk. 
apalagi sebagai kereta ekonomi selalu mendapatkan prioritas rendah ketika berhadapan dengan kereta eksekutif/bisnis, sehingga sering berhenti.
walhasil sampai kembali di stasiun senen lebih lambat 1 jam. dan sebagaimana lokasi moda di sini. banyak non-taksi dan taksi 'kurang terpercaya' yang mangkal. 

 

 

ketika kehebohan awal bahwa filosofi kopi akan dibuat filmnya, gue mencoba mengingat-ingat lagi cerpen filosofi kopi yang sudah dibaca entah berapa tahun yang lalu.

sama dengan beberapa reviewer lain yang penuh tanda tanya akan kemunculan karakter el yang sebelumnya tidak ada di cerpen, gue juga merasa (bertanya-tanya) apa perlu ditambah karakter baru?, karena di cerpen, ben dan jody aja sudah cukup, dan gue merasa ga perlu ada tambahan orang lain.

adaptasi filosofi kopi photo crop-filosofi-kopi-the-movie-poster_zpsrsahhy0p.jpg
sebelumnya gue ga pernah tau, kalo sebuah cerita/novel/cerpen/buku dijadiin film bisa jadi ga plek-ketiplek memvisualisasikan sesuai dengan apa yang ada di cerita asli.
nah, gue baru ngeh kalo di poster (dan woro-woro) lain tertulis "diadaptasi dari cerita filosofi kopi".
nah disitu semacam disclaimer : kemungkinan ada ketidaksamaan antara cerpen dan filmnya.
 
WARNING! SPOILER! 
oh iya, review ini kemungkinan penuh spoiler. buat yang pengen nikmati film tanpa spoiler, balik lagi aja baca ini setelah nonton :D

studio 2 photo IMG_20150405_090101_zpsziwwael6.jpg

film ini bercerita pengusaha muda jody yang punya sahabat ben yang berjuang berbisnis kedai kopi.
ben penuh kejumawaan, jody penuh logika. inilah yang bikin mereka clash berkepanjangan dalam menjalankan bisnis kedai kopi mereka.
 
ben sangat jumawa bahwa dia adalah barista mumpuni yang bisa bikin kopi yang enak -  kaya' di anime; bikin mata orang berbinar binar menjadi bentuk bintang. ternyata jadi down setelah mengetahui bahwa kopi buatan dia ada yang menandingi. ketika down tersebut, kehidupan masa lalu ben dan permasalahannya dimunculkan, dan jalan cerita film ini diarahkan untuk menuju closure dari masalah-masalah tersebut.
 
bisa dibilang jenny jusuf yang membuat screenplaynya membuat cerita keseluruhan berkesinambungan, dari mulai perseterusan ben dan jody, kehadiran el, masalah kopi terenak, dan pemasalahan ben dengan ayahnya.
ada satu dua dialog atau scene yang 'gak cocok', seperti pertemua ke-dua antara ben , jody dan el, dimana ben merasa sudah pernah bertemu dengan el secara formil, padahal khan cuma liat-liatan doang, kenalan juga kagak.
atau scene penggusuran(?, pengusiran(?)) lahan kopi bapaknya ben, yang buat gue lumayan agak mikir untuk merangkaikan dengan cerita-cerita flashback lainnya di film itu.
tapi, keseluruhan jalan cerita tak terganggu.
 
seperti yang di awal tadi gue bilang, jalan ceritanya ga terlalu sama dengan cerpennya, salah satunya adalah pencarian kopi tiwus;
 
dari sisi sinematografi, yang paling mengganggu buat gue adalah cara mengambil gambarnya. camera panning ke kiri ke kanan ke kiri ke kanan, secara cepat.
mata gue yang minus ini tampaknya ga bisa cepat beradaptasi dengan tampilan gambar seperti itu.
 
btw pemeran ben, chicco jerikho berlatih (kursus) belajar menjadi barista di abcd dan 'magang' di berbagai coffee shop untuk lebih menjiwai perannya sebagai barista jagoan.
 

sering sekali mendengar ada barang yang dikirim tidak sampai ke tangan penerimanya. jasa kurir/logistik mengklaim kalau barang sudah diterima, sementara barang tak pernah terlihat wujudnya. 
kalau barangnya barang umum dan banyak tentu masih permisif, tapi kalau barangnya unik, antik, cuma satu-satunya tentu kerugiannya jadi tak ternilai.

 photo 1425445934_zps53c8761e.jpg
beberapa waktu lalu, gue mengunjungi rumah ortu.
ketika sampai di sana, ada petugas pengirim barang yang lagi clingak clinguk. karena tidak terlihat ada orang yang merespon ketukan pintu.
gue tanyain, mau nganter barang buat siapa, dijawab bahwa barangnya untuk [nama],
karena itu nama adik gue, gue respon untuk menerima barang dan menandatangani resi penerimaannya.
dan barang itupun gue terima.
si pengantar barang pun berlalu.

nah
dari situ gue terpikir. inilah celah dari segala kehilangan barang yang dikirim melalui kurir. bahwa penerimanya bukan orang yang berhak menerima.
dan tidak ada semacam sistem yang bisa mengklarifikasi bahwa gue bisa dan boleh menerima barang yang bukan untuk gue.

kalo misalnya di depan rumah ada yang lagi iseng berdiri/nongkrong, terus ada petugas pengantar barang untuk penghuni rumah tersebut. sementara si kurir dengan serta merta mengiyakan barangnya untuk diterima oleh orang yang nongkrong tersebut. ya wasalam aja kalo ternyata si orang nongkrong tadi ternyata bawa barangnya untuk diri sendiri.

toh nandatangani resi juga bisa pake sembarang nama, sembarang asal tanda tangan.

kaya'nya ini yang harus diperbaiki dari segala sistem pengantar barang ini.
biasanya nomor telpon dicantukmkan oleh pengirim dan penerima.
jadi harusnya si pengantar harus dimodali pulsa oleh perusahaannya untuk melakukan penelponan ketika barang akan diserahkan. 

atau paling ekstrim adalah barang didrop dilokasi cabang pembantu perusahaan kurir tersebut, untuk kemudian diambil oleh yang berhak.

 

Komentator

  • veta:  dekat kantor soalnya mas, hehe [~~]
  • snydez:  @veta, iya mas, ngirim ke iradio , tenar ya alamatnya? ehhe [~~]
  • veta:  iRadio itu ya mas? [~~]
  • desain rumah minimalis:  artikel yg menarik gan. salam kenal [~~]
  • Info unik menarik:  Keren gan,ane tonton videonya,nice share :) [~~]
  • cK:  Waaah ke Sumba jugaaa! Aku belum bikin postingan soal Sumba. :))) @mas[~~]
  • snydez:  @nat : ya itu, si guide/supirnya agak males nganter kita kesana.[~~]

Links

TagCloud