menampilkan youtube dari henpon ke tv

semenjak pandemi ini, akhirnya ketambahan satu gadget lagi untuk jadi pengalih suasana, yaitu set top box android. 

stb ini pada dasarnya adalah alat bantu untuk membuat tv normal kita (kalau tidak mau dibilang tv bodoh 😀 ) menjadi smart tv.

sebenarnya untuk urusan cast dari henpon ke tv, lebih sreg dengan google chromecast.
tapi dari pada cabut pasang atau switch antar device, akhirnya coba untuk bisa cast dari henpon ke tv via stb.

karena stb ini operating system-nya adalah android, maka coba di-install dengan aplikasi youtube yang memang dikhususkan untuk tv.
biasanya kalau disediakan playstore nya, maka bisa unduh – download dari android playstore langsung.
kalau tidak ada, terpaksa googling “youtube tv apk

setelah youtube tv ter-install,  di sisi kirinya ada menu, lalu pilih menu setting (yang biasanya bergambar gear – roda gigi). seperti terlihat di gambar, posisinya ada di kiri bawah.



Lalu setelah itu akan muncul sub menu dari setting. di bawah sub menu “Tautkan TV & ponsel“,  pilih menu “Tautkan dengan kode TV“.

kalau ternyata menunya berbahasa inggris, coba cari yang kira-kira artinya adalah “link code

setekah itu akan dimunculkan halaman berisi kode yang harus diisikan di henpon.

catat kode yang diberikan, lalu ikuti petunjuk sesuai yang ada di layar, atau seperti di bawah ini.

buka aplikasi youtube dari henpon

setelah itu tap pada (foto) profile – di sisi kanan atas.

setelah itu akan muncul menu-menu, kemudian scroll sampai ke akhir menu, lalu tap menu “setting“.

Setelah masuk ke dalam menu setting, kemudian pilih menu “Watch on TV” atau mungkin bahasa indonesianya “Tonton di TV

Setelah masuk ke dalam settingan Watch on TV, pilih menu “Link with TV Code” atau mungkin artinya “Tautkan dengan kode TV

setelah itu akan muncul halaman untuk memasukkan kode. kode ini adalah kode yang didapat dari youtube tv.

setelah memasukkan kode dengan benar, tap pada tombol “Link” atau “Tautkan“.

setelah kembali ke halaman dashboard, maka akan muncul icon casttap icon tersebut maka sekarang video yang hendak diputar akan tampil di tv.

jangan beli external harddisk WD My Book

Jangan pernah beli harddisk external WD My Book, — kalau engga punya harddisk yang akan membackup harddisk WD My Book itu.

Sebenarnya, pesan tadi bisa untuk semua merek harddisk, tapi berhubung pengalaman gue dengan WD My Book, makanya itu yang bisa gue sarankan.

harddisk WD My Book ini adalah backup dari harddisk NAS WD My Book Live gue. jadi memang tidak regular dipakai.
nah, ketika dinyalakan, lampu indikator nyala sebentar terus mati. 
udah.
gitu aja.
coba beberapa kali ya gitu, listriknya dinyalain, led nya nyala sekejap, trus mati.
ga ada suara buzzing piringan harddisk atau lainnya.
senyap.

gue cari no telepon service center, terus tersambung. wah buka, khawatirnya ikut pembatasan PSBB.
setelah gue sampaikan permasalahannya, mba cs nya minta serial number, trus ga lama direspon, harddisknya sudah di luar masa garansi, jadi tidak bisa dilayani.

ha?! gue bukan mau minta ganti, tapi minta service.
ternyata di ‘service center’ WD ini tidak terima service. cuma terima tukar baru untuk barang-barang yang masih dalam rentang garansi.

hadeh

itulah kenapa gue kesal sama WD ini. 
memang gue belum tau masalahnya apa, tapi kalau masalahnya di harddisk, ya gue rela aja sih data hilang.
tapi kalau masalahnya adalah pada konektor/penghubung di enclosure/casing harddisk, ya harusnya dibantu lah sama WD nya, either suruh beli casingnya doang, atau gimana.
ini langsung “tidak terima service”.

salah satu alasan awal gue beli WD karena ada masa garansi yang panjang dan casing-nya ‘well build’. dan dari 2015 akhirnya bermasalah di 2020. 

 ya sudah, kemudian gue mulai mencari-cari tempat service WD, dan ketemunya cuma jasa recovery harddisk.
lah, kalau ternyata yang bermasalah adalah casingnya, tentu agak overkill kalau gue sewa jasa harddisk recovery.

ketika gue coba cari info di twitter, lalu andira bilang, dia punya pengalaman yang sama dua kali dengan harddisk WD My Book kantornya, yang bermasalah adalah ‘PSU’ nya, tapi ujung ujung dia tetap ambil jasa harddisk recovery

akhirnya gue berpikir untuk mendingan beli enclosure yang umum, untuk nyoba apakah harddisknya atau cuma boardnya yang bermasalah.

kembali googling permasalahan WD My Book, dan menemukan bahwa data di WD My Book itu dienkripsi. jadi ketika elo copot harddisknya dan dipasang di enclosure normal, datanya ga akan kebaca O_O.
pantes aja, IT guy kantornya andira juga angkat tangan soal enkripsi.

fuck!

shite.
googling lagi cari-cari solusi, kemudian ada 2 solusi yang mungkin bisa, pertama, beli WD My Book yang sama size nya, baik itu baru maupun second, nanti harddisk ditukar, untuk kemudian datanya dipindah.
yang kedua, beli board USB to SATA, controller yang jadi perantara sebelum ke harddisk, tempat di mana enkripsi terjadi.

mikir. lebih ke mikir harga dulu sih.
beli WD second dan baru harganya selisih 500 ribu sampai 800 ribuan.
beli board controller, itu udah pasti board second, harganya lebih dari setengah dari harga WD second.

sementara gue masih belum tahu apakah beneran boardnya yang rusak, apa hardiisknya.



ya sudah. untuk awal, gue beli dulu deh eclosure, tapi yang murah, ga ribet kalau bisa tepat guna.
ketemulah enclosure multi guna merek orico, bentuknya docking, jadi ga perlu baut sana sini, dan juga bisa untuk harddisk laptop yang 2.5″.

sementara menunggu pesanan, gue bongkar dulu WD nya.

berbekal video dari youtube mulailah gue membongkar casingnya, sampai jari sempat ketusuk obeng, akhirnya terbukalah casing tersebut. 

nah setelah mencopot board USB to SATA controller itu, sekarang nyari di mana sih serial number boardnya? karena board pengganti harus punya nomor yang sama.  ternyata serial numbernya ada di sisi bawah.

serial number board

setelah enclosure datang, waktunya ngetes dengan mencolok harddisk ke docking.
langsunglah terlihat masalah baru. sisi sisi harddisk ada baut untuk casing aslinya. bautnya ini menghalangi harddisk untuk bisa masuk ke docking.
dan bautnya itu bukan baut normal yang (-) atau (+). tapi kaya’ kembang.

bautnya ga umum
baut sisi harddisk

untuk kali ini gue beruntung, karena mendapatkan pinjaman satu set tools, yang salah satunya ada obeng yang berbentuk 6 sisi ini.

selesai buka bautnya, colok ke docking, nyalain. dan terdengar suara piringan harddisk berputar!

senang

nah kembali ke pilihan mau beli boardnya aja atau beli unit yang sejenis.

tapi gue googling lagi, penasaran soal enkripsinya, masuk ke forumnya WD, dan di sana ada orang yang pernah terselamatkan datanya dengan menggunakan step step tertentu.

langsung meluncur ke lokasi. di sana ada step step yang harus dilakukan dan harus dilakukan di mesin linux.
setelah baca dokumentasi, di sana disebut soal chip. tiap chip berbeda cara.
waduh setelah coba cari cari ternyata chip gue berbeda dengan chip yang dicantumkan di panduan tersebut. 🙁

chip number 

ketika sudah tersebersit untuk beli unit baru aja, lalu gue masuk ke forum diskusi di github panduan tersebut, dan di sana ada orang yang punya unit sama kaya’ gue. dan dia share step-step nya.

ternyata memang gue ga terlalu paham, step-step orang tersebut ga bisa diimplementasikan di linux gue, karena partitionnya beda.
setelah bolak balik ngobrol dengan Thomas Kaeding, si penulis how to mount WD drives in linux, akhirnya gue dapatin command yang benar. yaitu harus hitung sector dari partisi.

dan, sukses! harddisk gue ter-mount, dan terbaca, bahkan bisa ditulisi. 

intinya adalah seperti yang sering disampaikan @pinotski, always backup the backup.
permasalahan awal gue adalah gue tidak punya harddisk pembackup untuk harddisk backup ini.

setup meja kerja di rumah

dari akhir februari sudah kerja dari rumah, karena wabah covid-19 melanda dunia termasuk di jakarta.

awalnya ya, laptop diletakkan di meja seperti biasa.
namun karena harus selalu stand-by dikarenakan sewaktu-waktu harus responsive ketika dihubungi, walhasil jadi banyak duduk depan komputer dibanding wara-wiri sebagaimana kalau biasanya di kantor atau di tempat client.
lama lama jadi berasa pegal juga. apalagi gue penderita cacat pandang sehingga agak susah duduk normal, karena layar yang kurang jelas terlihat.

akhirnya nambahin monitor yang resolusinya agak kecilan, sehingga font-fontnya ga terlalu kecil.

tapi pegal tetap melanda.
lalu liat trend orang yang pada pakai dudukan untuk laptop.
haduh lagi pengiritan gini, agak malas beli beli (bilang aja karena harganya mahal :D)
akhirnya terbersit ide cemerlang, laptopnya diberi alas pakai binder. agak mirip khan.

yah nolong dikit 😀
kembali sih ke permasalah klasik gue, yaitu cacat pandang. jadi memang kalau cuma mengatur posisi laptop, masih belum nolong.

oh iya, lalu lihat video mengenai posisi ergonomis

paling basic adalah:
posisi tangan harus sejajar dengan meja, tidak membentuk sudut.
sehingga yang diatur sih harusnya tinggi meja, tapi jarang banget meja yang bisa diatur tingginya, oleh karena itu yang diatur ada tinggi kursi.



nah karena itu, gue kemudian menambahkan karpet mainan untuk nambah posisi tinggi gue ketika duduk, karena kursinya sudah tidak bisa ditarik lebih tinggi lagi.
lalu ditambah bantal biar ga keras.

di video lain mengenai posisi ergonomis, adalah, titik pandang harus lurus ke bagian atas layar.
dan sementara ini, biarpun sudah diganjel binder, posisi layar masih belum rata dengan mata.
walhasil, karpet mainan krucil dijadikan ganjalan tambahan di bawah binder

nah terkadang, koq tetep ga enak, akhirnya ganjalan ditambah lagi.

tapi seiring waktu, karpetnya diminta sama krucil buat mereka main. walhasil ganjalannya berkurang beberapa.

Older posts
Newer posts