Kliping

kliping adalah kegiatan mengumpulkan informasi dengan memotong artikel dari koran atau majalah terkait materi atau tema yang hendak dikumpulkan.

jaman dulu, jelas bahwa koran atau majalahnya adalah koran/majalah cetak.

namun saat ini, walaupun koran dan majalah masih ada yang cetak, besar kemungkinan koran dan majalah tersebut juga mempunyai koran / majalah versi daring (online version).

dengan berkembangnya peredaran informasi, terutama dari social media, maka sering berita koran / majalah daring, itu informasinya berasal dari postingan di media sosial.

Photo by Akbar Wahyu from Pexels

nah beberapa waktu lalu secara ga sengaja (*hlh) mendapati postingan gue di twitter di munculkan di artikel/berita di media online.

para penulis berita tersebut sama sekali tidak ada woro-woro atau sounding apapun bahwa postingan/tweet gue dinaikkan menjadi bahan berita.

karena itu gue pengen nyoba meng-klipping informasi kemunculan gue tersebut. untuk jadi kenang-kenangan kalo somehow comelan gue pernah dijadiin bahan berita.

berikut beberapa yang berhasil gue ketahui:

  • muncul di bola sport mengomentari tweetnya @pangeran soal pengaturan lapangan timnas.



  • muncul di cnn  mengomentari comebacknya menteri yasona
  • muncul di detik ketika nyombongi diri sebagai orang indoenesia no. 18 yang punya account twitter

nah kaya’nya cuma segitu 😀

lalu ada kemunculan di bentuk lain.

nah itu, segitu doang kliping mengenai kehidupan internet gue yang di-capture sama media ataupun pesohor 😉

sfh – study/school from home

semenjak diumumkannya kasus pertama penderita novel corona, atau covid-19, di indonesia; salah satu instruksi pemerintah adalah melakukan social distance, yaitu tidak berada dalam jarak dekat untuk setiap orangnya.
maka dari itu akhirnya sekolah sekolah meniadakan kegiatan belajarnya, tetapi diganti dengan belajar di rumah, study from home, school from home.

hal ini sontak membawa kegamangan serta kekalutan bagi orang tua. bagaimana mereka ternyata harus jadi ‘guru’ bagi anak-anak mereka. bagaimana membantu tugas-tugas sekolahnya, dll.

kembali ke tema, yaitu study from home, school from home
yang jadi perhatian awal adalah bagaimana belajar di rumah ini bisa dilakukan? untuk interaksi antara guru dan murid,
hal paling minimal yang bisa dipakai adalah menggunakan whatsapp. dan itu pun mungkin pakai whatsapp orang tuanya.

sedikit lebih advance, adalah menggunakan aplikasi document collaboration and sharing, seperti google drive. dan yang lebih terstuktur dan lebih cocok, adalah menggunakan aplikasi google classroom.

dalam implementasinya, belajar dari rumah (secara online) ini, lebih tepat disebut sebagai penugasan online – pemberian tugas online, dibanding belajar online.


selain harus menyelesaikan tugas yang diberikan, siswa pun diberi tenggat waktu kapan harus submit hasil pekerjaannya.

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

tapi ya itu, karena mendadak, guru, orang tua, dan juga mungkin muridnya – yang belum tentu paham bagaimana aplikasi (misal: google docs) difungsikan. yang terjadi dokumennya tidak bisa dibuka. atau bisa dibuka tapi tidak bisa diedit (karena niatnya seperti google form, dimana result tiap pembuka tersimpan terpisah tiap account).
maka yang timbul adalah kekalutan, karena belum bisa submit tugasnya. yang kalut sih orang tuanya.

selain masalah gaptek, ada lagi yang lebih mendasar, yaitu koneksi internetnya.
walaupun mungkin jaman sekarang sudah semua orang punya handphone yang bisa terkoneksi internet. tapi tetap menjadi beban bahwa perlu punya / beli paket internet.

kemudian yang jadi permasalahan selanjutnya adalah bentuk submission tugasnya. ada yang berupa foto dari kertas jawaban. ada berupa scan dari gambar/tugas, ada yang minta submit video. dan ada yang bahkan sampai meminta kolase foto kegiatan harian.

nah ketika tiba di permasalahan submission yang tidak lazim, seperti membuat kolase. ini kemudian jadi pr tersendiri buat orang tua. karena ga semua orang pernah bersentuhan dengan foto editor, baik di henpon, maupun di komputer.

dan masalah berikutnya justru paling klasik, yaitu (kedua) orang tuanya bekerja. si anak harus menghadapi tugas online ini dengan minimal support orang tuanya. kalau anaknya ternyata di umur yang masih perlu bantuan, terutama dalam hal teknologi dan alat komunikasi, walhasil bubas deh tugasnya.

intinya siap ga siap, kondisi belajar jarak jauh ini terjadi juga. yang membuat siap ga siap, orang tua musti siap.

bawa sendiri perangkat kerjamu

pengalaman gue bekerja bertahun-tahun, kantor selalu menyediakan peralatan bekerja gue, dari PC, sampai pernah disediakan laptop dan mobile phone

maka ketika kemudian bekerja di kantor yang tidak menyediakan komputer. gue sempet bingung.

Embed from Getty Images

gue bingung bagaimana dengan aktifitas serta kegiatan pribadi gue, kalo laptop pribadi gue dipake buat kerjaan kantor?

selama bertahun-tahun kerja dengan PC & laptop kantor, gue bener-bener misahin, mana kegiatan pribadi dan mana kegiatan kerjaan. mudah, karena device-nya beda

nah sekarang karena bekerja pakai laptop sendiri, gue bimbang :

  • apa perlu dibuatin operating sytem berbeda? untuk pribadi dan untuk kerja
  • atau apa perlu dibuatin akun local terpisah? untuk pribadi dan untuk kerja

 dan karena basically gue akan banyak kerja pakai microsoft windows, maka kemudian gue membedakan operating system yang dipakai.
windows buat kerja, linux ubuntu untuk pribadi.

yang kemudian adalah extra pengeluaran untuk membeli operating system windows 10 dan microsoft office.

nah yang agak memusingkan berikutnya adalah, laptop pribadi gue ini sudah berumur kira-kira 5 tahunan, ketika dipakai kerja yang intens, dia kedodoran, dikarenakan dari segi RAM yang kurang, dari segi harddisk yang juga ga terlalu cepat rpm-nya.

jadinya malah kepikiran untuk beli laptop baru untuk keperluan kerja. hayaah! pengeluaran besar!

tapi setelah diskusi sana sini, akhirnya diputuskan untuk upgrade hardisk jadi ssd. dan ram jadi 10 GB. 

cring… cring.. pengeluaran ekstra



kalau cuma butuh upgrade, masih bisa tertangani. tapi kalo ternyata rusak. yang butuh biaya besar, haduuuh riweuh.
berbeda kalau ternyata menggunakan laptop kantor, kalo rusak, ada kemungkinan bisa dipinjami laptop cadangan.

dengan byod untuk dipakai bekerja, yang pasti elo sudah terbiasa dengan device elo sendiri, sehingga ga perlu adaptasi, udah bisa dipakai langsung untuk kerja.

lalu enaknya byod ini, adalah semua informasi yang ada di dalam device yang elo pake, ga perlu capek-capek dihapus atau di-clean up, kalau misalnya elo resign.

oh iya satu lagi yang bikin sebel kalo byod ini adalah, laptopnya elo tenteng kesana kemari, kantor – rumah.
sementara kalau laptop kantor, bisa aja laptop di tinggal di kantor.

Older posts
Newer posts