https dan SSL

memegang hak guna domain snydez.com dari tahun 2000an, barulah akhirnya kini domain ini menggunakan SSL, sehingga yang tadinya hanya http sekarang jadi https. https://jurnal.snydez.com

httphttps.png

dikarenakan ada penyedia sertifikat SSL gratisan, 😀

jadi ssl ini apa sih?
simpelnya, ssl ini menambah keamanan terhadap data yang masuk dan keluar ke/dari snydez.com
atau lebih tepatnya, dibuatkan semacam pelindung/selongsong virtual antara komputer elo dan blog gue seperti terowongan. sehingga data yang mengalir dari keduanya tidak bisa dicegat di tengah jalan yang mengakibatkan kebocoran data.

berhubung ini cuma blog, sama sekali tidak ada transaksi inputan kartu kredit atau transaksi perbankan lainnya, jadi pemasangan SSL ini lebih karena kebijakan google yang (kemungkinan) tidak akan melisting site site yang belum menggunakan SSL pada domainnya.
sehingga, kalo mau blog / website elo tetap bisa di-search di google, elo harus ‘bersertifikat’ (SSL).

#inktober2017

bisa dibilang gue hampir tiap tahun ikutan self-challenge #inktober ini.
#inktober adalah menantang diri sendiri untuk menggambar atau melukis setiap hari dalam satu bulan penuh di bulan oktober.

gue menerjemahkan menggambar di #inktober ini lebih spesifik: menggambar dengan pulpen, ballpoint, tanpa sketch (pensil), no pencil.

untuk tahun 2017 ini gue mengambil tema untuk menggambar muka.

dari yang seinget gue, tiap tahun gue gak pernah bisa memenuhi tantangannya menggambar tiap hari. sehingga paling hanya jadi kurang dari 31 gambar.

untuk tahun 2017 ini, gue menggambar muka dimulai dari @pinotski (a.k.a @pinot) dan terakhir adalah @thomasarie. itu cuma 17 gambar dalam rentang waktu 27 hari (gue menggambar thomas itu di tanggal 27 oktober 2017).

gue memilih ‘korban‘ gue acak aja, gue menggambar muka mereka tanpa seijin mereka heheh.. walaupun acak, setelah gue ulas sekilas, para ‘korban’ ini gue pilih karena adanya faktor historis, sukarela, dan karena gue merasa aman men-troll mereka 😀
sayangnya oktober keburu habis, dan gue pun ga lengkap bisa menggenapi 31 gambar, padahal masih banyak calon korban di luar sana menunggu untuk gue gambar.

dari awal gue pengen menggambar muka dengan pose yang tidak terlalu standar, maka ketika pinot bergaya dengan kacamata, gue mengambil pose itu untuk gue gambar.
ternyata nyari pose muka orang yang tidak standar sangat butuh waktu men-scrolling timeline mereka di pelbagai sudut akun sosmed mereka. ketika gagal menemukan pose muka yang gue mau, akhirnya gue pilih pose muka yang sreg.
jadi selain tantangan menggambarnya, gue banyak berjibaku dalam mencari foto muka mereka yang gue mau.

dari sekian pose yg gue dapat dan kemudian gue gambar, yang paling keren buat gue posenya @kapkapsaja. setelah gue gambar pun ternyata gue suka. karena itu gue menobatkan pose muka @kakapsaja adalah gambar pose muka favorit gue.

@kapkapsaja

nah untuk inktober kali ini gue merasa besar kepala berapa kali. yang pertama adalah untuk pertamakalinya ada yang request untuk dibuatin gambar mukanya 😀
dan yang kedua adalah ketika @thomasarie meminta dikirimin gambar itu ke dia.
besar kepala gue rasanya

progressive

progressive yang gue maksud bukan genre rock band. tapi jenis lensa kacamata.

sekitar awal tahun 2017, dokter mata sudah mendiagnosa kalau mata gue sudah plus. tidak,  tidak lantas matanya jadi tiga :D. tapi kemampuan mata gue untuk membaca jarak dekat sudah bermasalah, alias rabun dekat.

historically, gue sudah menggunakan kacamata minus semenjak kelas 6 SD. karena mata gue tidak mampu membaca tulisan di jarak jauh, alias rabun jauh.

ketika akhirnya gue memesan lensa untuk permasalahan mata plus ini.
dari petugas optik, gue dihadapi 3 pilihan;

  • beli kacamata khusus baca (yaitu hanya lensa plus doang)
  • beli kacamata lensa progressive
  • beli kacamata lensa dengan lensa plus ‘terpisah’ dari lensa minus.

ya elah, hidup memang penuh pilihan.

beli kacamata khusus baca, keribetannya, ketika elo mau baca, ya harus copot kacamata minus yang lagi dipake, untuk kemudian pasang kacamata plus.
trus bolak-balik aja copot pasang.

nah kalau mau beli kacamata yang lensanya sudah ada lensa minus dan lensa plusnya. ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan.

jika memilih lensa yang ada ‘coakan’ / ‘belahan’ lensa plusnya. secara penampilan, you will look like someone who already 60 :D. itu aja, ga fesyen.

jika memilih lensa progressive, lensanya tak akan ada  ‘pemisahnya’ normal aja sebagaimana lensa. namun… kata petugas optiknya, banyak orang kesusahan menggunakan lensa progressive karena

  • untuk orang yang belum pernah pakai kacamata minus, akan susah beradaptasi. ok, itu bukan gue, next..
  • lensa progressive, titik fokusnya di tengah, titik yang paling jelas ada di tengah, bergeser ke kiri atau ke kanan maka akan buram, dan bisa pusing.
  • frame kacamata harus ‘tinggi’, tidak boleh yang kecil. karena kalo kecil, nanti porsi lensa plusnya terlalu sedikit, jadi susah mendapatkan titik fokusnya.

wO0t!

akhirnya demi second opinion gue pergi ke toko kacamata langganan gue di pasar pagi mangga dua, sekalian beli frame yang agak gedean.

gue ceritainlah soal progressive itu ke toko kacamata langganan tersebut. dan untuk kondisi melirik kanan dan ke kiri diconfirm, bahwa banyak seperti itu.

tapi,… kata si mbak toko, bisa koq di-belajar-i. sehingga nanti terbiasa. pilih lensa yang ruang plusnya besar.

baiklah.

setelah kacamatanya jadi. gue pasang, gue mengalami pusing dan gamang yang biasa dialami setiap ganti lensa kacamata.

setelah itu gue diajari bahwa, lensa progressive itu ada 3 stages.

eye glasses
lensa progressive (sumber: stocksnap.io)
  • bagian atas, adalah bagian lensa minus, jadi ketika elo berusaha untuk membaca hal yang jauh, supaya jelas, turunkan kacamata elo sedikit, atau elo menunduk sedikit sehingga titik mata mengarah pada bagian atas lensa.
  • bagian tengah, inilah daerah gradasi, gradasi dari lensa minus ke lensa plus. di daerah ini, elo tidak akan jelas membaca jarak jauh, dan juga tidak akan jelas membaca jarak dekat. jelasnya hanya untuk jarak sedang.
  • dan bagian bawah, adalah lensa plus. untuk membaca elo hanya melirik ke bawah dengan kepala tegap. karena kalo kepala ikut nunduk, jadinya titik mata akan jatuh di tengah lensa, burem.

jadi itulah yang harus dibiasakan supaya ‘lancar’ ber-progressive ini,

oh iya, kekhawatiran kalau melirik kanan kiri akan buram, ternyata tidak terlalu efek ke gue, selama daerah atas, bawah, tengah itu gue ikutin, maka ketika melirik akan menggunakan fokus yang sama dengan target lensa yang gue mau.

catatan: bu dokter memberitahu sekarang ini banyak orang di bawah umur 40 tahun sudah terkena hiperopia ini, thanks to technology (re: gadget, computer, etc). 🙁

Older posts
Newer posts