ditambah ada rencana , jadi semakin memperkuat usaha ran tersebut.
setelah berkeliling memutar menghindari jalanan sekitar istana, karena gue gak mau tiba tiba terhadang macet pengalihan jalan, sampailah gue, ran, bokap, nyokap dan mertua di rs budi kemuliaan jam 9-an malem.
dan segera melapor di ugd. agak beda rumah sakit bersalin dengan rumah sakit biasanya, ugd nya dirangkap untuk melayani kedatangan pasien non-emergency. dan selain itu pelayanan bolak balik antara meja suster dan meja admisistrasi serta pemeriksaan awal pasien butuh waktu hingga 1.5 jam!
bayangin kalo ternyata emang beneran emergency, misalnya udah mules mules, nggak tau deh tindakan mereka gimana.
karena rencana operasi dilakukan jam 10 pagi jadi gue waktu itu gue gak merasa dikejar kejar, paling pegel dan bosen aja nunggu nya
jam 10-an malem, barulah ran mendapatkan ruang.
sampai diruangan, suster lalu memasang alat pendeteksi detak jantung, yang hasilnya berupa grafik (seperti Seismograph). setelah diperiksa, suster memberitahu akan memeriksa lagi sekitar jam 7 pagi.
tapi ternyata jam setengah 12 malem, susternya datang lagi
"bu, bisa minta tolong suaminya untuk beli makanan, jangan roti, tapi nasi. untuk merangsang gerakan bayinya"
"emang kenapa bayinya?"
"hasil deteksi jantung tadi menunjukkan jantungnya gak stabil"
panik dimulai...
segeralah gue nyari tukang jualan, untung ada satu tukang jualan nasi goreng yang mangkal dipengkolan deket lampu merah. walah.. harus ngantri ada 4 orang yang udah nunggu pesanan pas gue dateng. untunglah abang tukang nasi gorengnya berinisiatip untuk mendahulukan gue, karena gue cuma mesen 1 bungkus, sementara beberapa yang lain mesen lebih dari 1 bungkus, dan mie rebus pulak.selesai makan, kirakira jam 12.30 dinihari, ran diperiksa lagi,
gue yang berusaha tenang, ternyata ga bisa, gue ngeliatin hasil grafik pemeriksaan yang berlangsung 20 menit-an tersebut.
menjelang menit menit akhir pemeriksaan ternyata spike grafiknya gak setinggi ketika menit menit awal, udah agak landai..
weleh gue langsung waswas.
susternya segera membawa print out grafik tersebut untuk ditanyakan ke dokter.
dan gak berapa lama kemudian suster nya kembali, kali ini gak sendiri, tapi dengan beberapa temennya
"bapak, ibu, kita sudah hubungi dokter, dan dokter memerintahkan untuk melakukan persiapan operasi sekarang"
langsung ciut hati gue,
lalu menyiapkan barang barang yang perlu dibawa, seperti gurita, kain panjang dan baju salin. sisanya tinggal diruangan, kecuali henpon dan barang berharga lainnya yang emang disuruh bawa.
ketika kehamilan ran kurang dari 30-an minggu (7.5 bulan-an), bayi di rahimnya ternyata belum juga kunjung berputar ke bawah. yaitu kepala menghadap ke arah rongga panggul. dokter Arief menyarankan, karena ini adalah anak pertama, jika memang ketika menjelang mendekati persalinan ternyata si bayi masih belum juga berada pada rongga panggul, maka ada baiknya di operasi sesar.
hal tersebut membuat kita agak down, apalagi ran berkeinginan melahirkan normal . tapi dokter masih menunggu hingga 2 minggu sebelum perkiraan lahir normal, jika bayi tidak juga pada posisi yang benar maka akan diputuskan untuk operasi sesar.
pada umur kandungan kira kira 32 minggu (8 bulanan), ketika periksa kehamilan, dr. Arief mendeteksi ada miom di perut ran. nah ditengarai miom ini lah penyebab bayi sukar berputar ke posisi kepala dibawah.
miom adalah semacam daging tumbuh / tumor yang jinak yang membesar seiring pembesaran rahim & bayi. ini terjadi karena miom juga ikut mendapat nutrisi yang di supply oleh ibu yang seharusnya untuk bayinya.
link : mengenal myoma
ketika minggu ke-34 (8.5 bulanan) ketika dilakukan USG 4 dimensi dideteksi miom nya ternyata ada 2 buah. bediameter 4.5cm dan 5cm.
namun yang agak membesarkan hati adalah, arah kepala bayi sekarang sudah berada dibawah dan sudah masuk rongga panggul.
minggu ke 35, ketika diperiksa, ternyata kepala bayi tidak berada di rongga panggul, tapi diluarnya. akhirnya benar benar diambil keputusan untuk dilakukan operasi sesar.