awalnya sih gue mikir, promo itu bentuk kebaikan hati jenama – brand. atau paling enggak, strategi biar barang cepet laku. tapi makin ke sini, rasanya promo cuma jebakan halus biar otak loe mati sejenak, dompet loe terbuka.

beberapa waktu lewatlah promosi salah satu jasa kesehatan.
kemudian tergiur karena infonya ada diskon sekitar 30%. lumayan banget kan pikir gue.

pas datang ke lokasi, ternyata ceritanya berubah. ada dua paket yang ditawarkan. satu paket sesuai iklan promo. satu lagi paket yang lebih mahal dengan berbagai tambahan layanan yang katanya lebih lengkap.

gue ambil yang diskon karena mikirnya ya udah cukup.
bayarlah paket tersebut.

eh, di tengah perjalanan, muncullah biaya tambahan. dan bukan cuma sekali.
rasanya kayak beli tiket masuk, tapi di dalamnya loe harus bayar lagi buat lihat pemandangan.
diskon 30% rasanya jadi menguap begitu aja, diganti sama pengeluaran-pengeluaran kecil yang kalau ditotal malah bikin boncos, malah tekor.

kalau dipikir-pikir, kayanya emang ga ada yang bener-bener namanya promosi tulus. itu semua cuma trik biar kita jadi spent lebih.

contoh paling gampang, mungkin di pasar swalayan – supermarket.

karena barang promo, akhinya kita beli lebih banyak dari yang kita butuhin. fenomena psikologi diskon ini emang sering bikin kita kalap. pas liat label promo, langsung pengen segera beli, dan banyak. karena biasanya yang promo itu bukan barang satuan, tapi harus beli sekian untuk dapat promonya.

lihat diskon 50 persen, loe beli dua padahal cuma butuh satu. lihat “beli tiga gratis satu”, loe pikir hemat, padahal cuma gak mau ngerasa rugi.

nah ketika barangnya adalah barang konsumsi, masalah lain timbul.

kalau produknya harus dikonsumsi dan dalam jumlah banyak, ada kemungkinan gak akan langsung bisa habis dikonsumsi, yang berujung kemudian jadi kedaluwarsa.
akhirnya malah dibuang.
jadi.. apa untungnya kalo gitu?

Another post
bedanya kelas luring dan kelas daring
bedanya kelas luring dan kelas daring

kadang yang namanya kebiasaan itu walaupun berbeda situasi, akan tetap terjadi

menu makanan digital
menu makanan digital

sungguh judul yang bombastis 😀 kebetulan kemarin berkesempatan ke mall, dan sudah waktunya makan siang. setelah keliling food court dan Read more

bergantung
bergantung

rencana cuma jenguk bu de yang sakit di dekat rumah, jadi persiapan ya standar aja, henpon, dompet, sudah. selesai dari Read more

bosan dengan wordle
bosan dengan wordle

setelah merasa bosan dengan worlde? jangan khawatir, di new york times tempat wordle, tersedia games permainan lain.

atau barang yang promo itu sebenarnya tidak dibutuhkan,
tapi karena promo, why not, akhirnya dibeli.
lah padahal ga butuh.

jadi tampaknya mindset harus didoktrin : promo bukanlah keuntungan. justru kalau tidak beli barang promo malah jadi untung.