30
Jan
2013
16:33

istilah kas blong ini udah sangat lama gue dengar, tapi baru kali inilah gue merasakan apa yang dinamakan kas blong ini.

jadi bulan kemarin gue mengalami dimana pengeluaran gue tak terkendali, sehingga semua tabungan dikerahkan untuk keperluan .
jadilah beberapa minggu sebelum gajian gue harus sounding ke beberapa rekan sekitar apa kiranya masih punya tabungan yang bisa gue pinjam.
yang sialnya pun ternyata mereka lagi tight budjet jadi gak siap untuk dipinjam

sampai akhirnya si izoel bisa minjemin.

tapi itu pun bener-bener ga bisa ditahan, pengeluaran tetap ada, bahkan diluar rencana.
kaya' banjir yang kemarin melanda, air dijalanan depan rumah itu sepinggang (±70 cm), sehingga untuk mencapai rumah, harus mendorong motor melawan arus. walhasil ketika beberapa hari kemudian hendak dipakai, motornya ga mau nyala, dan harus kebengkel.

 

sampai pada suatu waktu sempet kepikiran untuk mencoba jasa pegadaian, berharap mungkin HTC Hero gue masih bisa laku digadaikan.

penderitaan belum selesai, hari dimana harusnya sudah ada informasi mengenai gajian, eh tertunda, baru diakhir minggu ditransfer, tapi untuk transfer antar bank baru bisa 1 hari kemudian yang notabene itu adalah hari senin, 2 hari setelah hari jum'at.

From terkap momen

bener deh, jadi pelajaran banget, untuk bisa mengatur flow keuangan. jangan mentang-mentang punya uang lantai semuanya harus dibayar tunai.
ada yang namanya kredit (atau jasa kartu kredit) itu menolong mencegah pengeluaran tak terbendung, tercicil pengeluarannya sehingga cash masih bisa teralokasi untuk hal yang siapa tau lebih penting (karena hal tak terduga)

 

rumah yang kita tempati ini membutuhkan renovasi diberbagai tempat. mulai dari mengganti keramik lantai yang mengangkat, sampai dengan mengganti plafon yang kena bocoran dari genteng.
ya, rencananya hanya itu saja yang akan diperbaiki.

tapi dalam perjalanannya, tidak begitu.
pertama, ternyata ketika tukang bangunannya available, ternyata kita nya yang engga ready.
kedua, terkait hal pertama, kita ga nge-plan apa yang harus dikerjakan dahulu.
ketiga, tukang bangunannya juga ga bisa prediksi, butuh barang apa saja, atau hal apa aja yang perlu diperbaiki terkait hal yang perlu diperbaiki.
keempat, pengawasan kurang, sehingga apa yang kita mau, jadinya sedikit berbeda.

jadi, ketika hendak merenovasi rumah. pastikan dulu apa saja yang perlu diganti.
kemudian, belanja barang tersebut SEBELUM tukangnya ada. 
dan, harus bisa memprediksi butuh apa aja untuk merenovasi tersebut. misalnya; untuk mengganti keramik 15 buah, tentu perlu semen, perlu pasir, perlu pemotong keramik, dll. pastikan barang-barang pendukung tersedia juga SEBELUM tukangnya ada.

selanjutnya, meramal. apakah ada hal lain yang ternyata membutuhkan renovasi juga. misal ketika kamar mandi perlu diganti lantainya, apakah toilet wc perlu diganti juga?
jangan sampai ketika keramik lantai kamar mandi sudah diganti, baru kepikiran untuk mengganti wc sekalian. walhasil bisa-bisa lantai yang baru dipasang, dibongkar lagi.

setelah bisa memprediksi kebutuhan material, dan material terkait, serta rencana renovasi tambahan. jalankan rencana tersebut sebaik mungkin. jangan ditengah jalan, selagi merenovasi lantai, pengen bikin lemari baju juga. 
gak semua tukang bangunan bisa mengerjakan apa aja. belum tentu dia ngerti gimana ngebangun lemari baju, sementara sehari-hari dia cuma nembok, nyemen. 
tentu saja butuh tukang kayu. nah karena sudah berbeda pertukangan dan 'mendadak', walhasil belum tentu juga ada tukang kayu yang available disaat itu juga. yang ada mungkin harus indent dulu, nunggu tukang kayu ada.

jika elo pegawai yang bekerja senin-jum'at. mendingan ambil cuti seminggu atau lebih, mandorin tukang bangunan anda, kalau ga pengen bentuk jadi hasil renovasi berbeda jauh dari bayangan elo.

 

personal menurut gue adalah pilihan yang cenderung idealis. dimana faktor-faktor internal dari diri sendiri yang membuat sesuatu jadi personal. 

tapi bagaimana jika idealisme tersebut harus dibenturkan dengan profesionalisme?

profesionalisme muncul karena faktor luar yang menuntut kita untuk tidak personal. profesionalisme dituntut oleh orang lain terhadap kita. kalau memang bisa negosiasi, dengan 'memunculkan' personal kita yang kemudian dipakai untuk profesional, tentu menyenangkan. tapi bisa dibilang jarang banget ya.

bingung?

pandji chelsea contoh paling gampang adalah pandji.
dia ini setau gue adalah fans manchester united. tapi dia juga menjadi host soccer star indonesia yang disponsori oleh chelsea.
dan setau gue kalo ngefans sama satu team EPL ga akan mau menyentuh apapun yang berbau team lawannya.

fans manchester united = personal.
membawakan acara tv dengan menggunakan jersey chelsea = profesional.

atau priyadi.


priyadi ini seorang blogger yang orang bilang selebblog. postingannya beragam. dan beberapa waktu lalu hiatus sampai waktu cukup lama. disaat yang bersamaan beliau mempunyai akun twitter, yang ajaibnya : tidak memfollow siapapun. tapi followernya sangat banyak.

tapi akhirnya idealisme itu pun akhirnya tergerus profesionalisme. yaitu dalam rangka xlnetrally beliau akhirnya memfollow akun sponsornya tersebut dengan harapan (katanya sih sudah terwujud) untuk mendapatkan iPad. dan pemfollowan ini cukup rame diperbicangkan di twitter.

tidak follow siapa-siapa = idealisme = personal.
follow akun sponsor untuk iPad = profesional.

 

 

Komentator

  • Bidadari Rika:  hai, ika salam kenal, ane belum punya instalgram. jadi belum[~~]
  • Rika:  Ih lucu yaaa instagram nya Pitra... dulu [~~]
  • nita:  sangat inspiratif :D umroh in ramadhan [~~]
  • nita:  semoga cepet pulih ya paket haji plus [~~]
  • nita:  semoga cepet pulih ya http://paketumrohhaji.com/ [~~]
  • Natalia:  Semoga cepat pulihnya... Fisioterapi itu memang harus rajin dijalanin ya...[~~]
  • Objek Wisata Di Bandung:  Yang namanya buah sepertinya enak tuh gan. Apalagi buah-buahn yang[~~]

Links

TagCloud