setiap saat melihat keburukan, maka keburukan tersebut jadi hal yang lumrah.
setiap waktu melihat kejahatan, maka kejahatan tersebut jadi hal yang lumrah.
awalnya mungkin kita merasa terganggu. melihat orang membuang sampah sembarangan, melanggar aturan, berbohong, atau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. ada rasa kesal. ada keinginan untuk menegur. setidaknya, ada perasaan bahwa sesuatu yang salah sedang terjadi.
tapi kalau hal tersebut terus-menerus kita lihat, setiap hari, di mana-mana, lama-lama respons kita berubah.
yang tadinya bikin kesal, sekarang cuma bikin geleng-geleng kepala.
yang tadinya terasa tidak pantas, sekarang dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“ya, memang begitulah orang-orang.”
“namanya juga di sini.”
“mau gimana lagi?”

akhirnya, bukan karena keburukannya berubah menjadi baik, tapi karena kita sudah terlalu sering melihatnya.
dalam psikologi, ada istilah moral desensitization, yaitu berkurangnya kepekaan emosional seseorang terhadap perilaku yang salah akibat paparan yang berulang. ada juga istilah normalisasi penyimpangan, ketika sesuatu yang awalnya dianggap menyimpang lama-lama diterima sebagai sesuatu yang biasa.
kita bisa melihat contohnya di sekitar.
pelanggaran lalu lintas yang dilakukan berulang kali. orang yang menyerobot antrean. kebiasaan membuang sampah ke tempat yang bukan seharusnya. korupsi yang terus diberitakan. perilaku kasar yang dianggap lucu. atau ketidakadilan yang sudah terlalu sering terjadi sampai tidak lagi mengundang perhatian.
awalnya mungkin masih ada yang protes. lama-lama yang protes berkurang. bukan karena masalahnya selesai, tapi karena orang-orang sudah lelah, sudah terbiasa, atau merasa tidak ada gunanya lagi mempermasalahkan.
yang lebih mengkhawatirkan, kebiasaan melihat keburukan bisa membuat kita kehilangan ukuran tentang apa yang seharusnya dianggap salah.
ketika semua orang melakukan hal yang sama, kita mulai berpikir bahwa tidak mungkin semuanya salah.
padahal, sesuatu tidak otomatis menjadi benar hanya karena banyak orang melakukannya.
dan sesuatu tidak otomatis menjadi wajar hanya karena sudah berlangsung lama.
mungkin kita memang tidak bisa mengubah semua keburukan yang ada di sekitar. mungkin kita juga tidak selalu punya tenaga untuk marah atau menegur setiap kali melihatnya.
tapi setidaknya, jangan sampai rasa terbiasa membuat kita lupa bahwa itu adalah keburukan.
karena yang paling berbahaya bukan cuma ketika kejahatan terjadi berulang kali.
melainkan ketika kita sudah melihatnya, tahu bahwa itu salah, tapi kemudian merasa tidak ada yang salah dengan semua itu.


