beberapa waktu lalu gue mencoba menggunakan JAKI untuk melaporkan masalah : ada tumpukan sampah di gang dekat rumah.

sampah menumpuk

prosesnya mudah. gue foto, upload, dan laporkan. tidak lama kemudian, laporan gue direspon oleh petugas PPSU. mereka menyatakan bahwa sampah sudah dibersihkan. bahkan dilampirkan foto kondisi gang yang terlihat bersih.

tindak lanjut di jaki

Kelihatannya selesai. Ideal.

tapi..
… ternyata tidak, sodarah sodarahhhh!

ketika gue cek langsung ke lokasi, sampahnya memang “hilang”—tapi bukan dibersihkan. Hanya digeser lebih ke dalam, ke area yang tidak terlihat dari sudut foto yang mereka kirim.

sampah yang sudah "bersih" ternyata digeser mkain ke dalam

masalahnya bukan diselesaikan. tapi: dipindahkan.

dan yang lebih mengganggu: mereka tahu persis apa yang mereka lakukan. sudut foto dipilih sedemikian rupa agar terlihat bersih. seolah-olah ini bukan pekerjaan lapangan, tapi latihan framing.

gue jadi bertanya-tanya—apa tujuan utama dari sistem seperti ini? menyelesaikan masalah, atau menyelesaikan laporan?

btw, gue juga mendapati hal lain.
seseorang melaporkan mobil yang parkir sembarangan di dekat rumahnya.
harapannya jelas—ada penertiban, atau minimal koordinasi dengan pihak setempat.

tapi yang terjadi justru lebih absurd.

foto “penyelesaian” yang diunggah menunjukkan mobil tersebut sudah tidak ada. belakangan diketahui, gambar tersebut diduga sudah dimanipulasi menggunakan AI agar mobilnya terlihat hilang.

masalah di dunia nyata tetap ada. tapi di sistem, semuanya terlihat beres.

fenomena seperti ini mengkhawatirkan. karena ketika indikator kinerja berbasis laporan selesai, ada insentif untuk “menyelesaikan di atas kertas”—bukan di lapangan.

dan ini berbahaya dalam jangka panjang.

kepercayaan publik itu dibangun dari hal-hal kecil. dari satu laporan sampah. dari satu mobil parkir liar. ketika warga mulai merasa bahwa laporan mereka hanya akan “ditata” secara visual, bukan diselesaikan, mereka akan berhenti melapor.

padahal partisipasi warga adalah fondasi dari sistem seperti ini.

mungkin masalahnya bukan di individunya saja. bisa jadi ini soal sistem evaluasi. jika yang dihitung adalah jumlah laporan yang “closed”, maka kualitas penyelesaian jadi nomor dua.

akhirnya, yang terjadi adalah optimasi yang salah.

daripada benar-benar menyelesaikan masalah yang mungkin butuh waktu dan koordinasi, lebih mudah untuk sekadar membuatnya terlihat selesai.

cepat. rapi. tapi bohong.

gue tidak berharap sistem ini sempurna. Tapi setidaknya, jangan sampai kita terjebak dalam ilusi penyelesaian.

Another post
perjuangan mencari makan siang setelah libur lebaran
perjuangan mencari makan siang setelah libur lebaran

buat pekerja kantoran jakarta, adalah tantangan sendiri untuk bisa mencari makan siang pada lunch break saat hari pertama masuk kerja Read more

dahulukan yang keluar
dahulukan yang keluar

dahulukan yang keluar begitulah tulisan yang banyak dipampang di berbagai lokasi yang menjadi pintu orang masuk keluar. baik itu di Read more

Hideo Kojima mengulas j-dorama MIU404 dan Unnatural, serta drakor Moving
Philip K Dick mug - tweet from Hideo Kojima

cukup kaget juga ketika Hideo Kojima mem-posting tweet me-review j-dorama MIU404 dan Unnatural.karena secara 'porsi', Kojima-san ini adalah seorang game Read more

kegunaan NAS untuk personal
kegunaan NAS untuk personal

kita mengenal adanya media penyimpanan data seperti USB flash drive, hard disk. nah ada media penyimpanan yang seirng disebut NAS. Read more

karena warga tidak butuh foto “sesudah”.

kami butuh masalahnya benar-benar hilang.