penggemar

buat seorang fan, adalah kebahagiaan tidak terkira ketika bisa bertemu dengan idolanya. dan lebih bahagia lagi ketika idolanya ternyata aware akan keberadaan si fan ini.

gue pernah jadi fan seorang penyanyi yang kemudian gue berujung antipati hanya karena masalah sepele, manajemennya gue anggap menghiraukan gue ketika gue mencoba sounding mengenai hal yang sedang ‘diperlukan’ si artis/manajemennya.
apalagi ketika ‘dijadikan’ berita, seolah-olah gue yang salah.

sejak itu gak pernah gue mengidolakan seseorang secara mendalam.

jadi, ketika gue menyukai karya dari seseorang, gue hanya cukup berusaha memiliki karyanya, tanpa coba terlalu berinteraksi dengan artis. cukuplah hanya menjadi ghost fan aja.

penah ketika ada seseorang public figure yang punya kedekatan  historis*) dengan gue menyampaikan bahwa dia mencantumkan nama gue di bukunya, gue sudah cukup tersanjung tanpa tahu benar atau tidaknya nama gue ada terpampang di buku itu.

pernah juga ada juga seorang ayam, #eh, artist nerd geek anak IT kartunis bepernampilan ayam yang membuat buku, tanpa bilang-bilang mencantumkan akun gue di dalam bukunya. itu malah bikin gue pengen nuntut royalti, #eh, cukup senyam senyum jemawa (ke diri sendiri),

muncul di buku
@cikenstrip (d/h @niwat0ri) mention akun @snydez

salah satu hal lain yang membuat gue berfikir ulang untuk mencoba berinteraksi dengan  idola adalah: gue akan menyia-nyiakan kesempatan langka tersebut, jadi nge-blank , atau jadi speechless, dan hal-hal lain yang tidak produktif  yang akhirnya gue sesali.

jadi, sebisa mungkin gue akan jadi low profile die hard fan untuk orang-orang yang karyanya gue suka. hlh!

*) kenal dan tau (virtually) semenjak lama, jauh sebelum orang tersebut terkenal

tirta arsanta – resort & pemandian air panas

salah satu lokasi getaway untuk rehat paling dekat di luar jakarta adalah seputaran bogor. bisa dicapai dalam waktu 2-3 jam, sudah termasuk waktu tempuh dikarenakan macet.

tirta arsanta adalah salah satu tempat tetirah yang berlokasi di sentul. belok ke kanan, ke atas, ke sebuah jalanan kampung sebelum taman bermain jungleland. setelah menempuh jalan kecil, sempit, menanjak dan lumayan jauh, akhirnya tiba di tirta arsanta, wisata air panas natural. jadi disarankan untuk tidak ke sana dengan menggunakan bus besar.

tirta arsanta
tirta arsanta

penginapan ini melingkupi lokasi yang lumayan luas. ada beberapa kamar, satu pendopo, dan ada meeting room yang dilengkapi berbagai peralatan untuk rapat, ada juga mushola yang bisa muat 7 orang dengan imam.

gapura
gapura
bundaran
bundaran

 

kolam air panas di depan setiap kamar
kolam air panas

kalau dari kamar, tidak akan mendapatkan langsung pemandangan gunung dan bukit, karena adanya kolam air panas di setiap kamarnya, privacy, tertutup. jadi jika hendak melihat pemandangan, bisa berjalan sedikit ke arah belakang.

ga tau gunung/bukut apa :D
bukit & gunung di sentul

derau angin di villa tirta arsanta ini pun sering dikira seperti hujan deras. yang on-off berkali-kali. jadi seketika angin bertiup kencang, lalu reda. dan berulang lagi angin kecang beberapa menit berikutnya, yang segera disusul reda.

kolam
kolam
mushola
mushala

pelayanan yang ramah, dan di kamar disediakan toiletries standar sebagaimana layaknya hotel.
lalu di tiap kamar disediakan bathrobe serta celana pendek jika tidak membawa celana untuk berendam di kolam air panas.

saat kemarin, wifi yang tersedia – walaupun connected – tidak bisa untuk browsing. dan sinyal operator selular pun kembang kempis. telkomsel yang digadang-gadang  sinyalnya ada sampai ke kabupaten pun hilang timbul. kesannya sinyalnya pergi ke mana angin bertiup, kadang muncul kadang no service. jikalau mendapat sinyal, koneksi data yang bisa terhubung cuma edge.
yang masih agak lumayan adalah sinyal indosat.

di luar penginapan ada warung yang menjual berbagai macam cemilan, minuman, dan kartu remi atau domino, atau blau untuk cemong-cemong hukuman bermain kartu 😀

jika hendak berwisata outdoor, di sekitar penginapan ada beberapa wisata alam seperti goa gerunggang, serta curug putri kencana.
kalau ke goa harus hiking/trekking, sementara kalau ke curug kencana bisa menggunakan kendaraan.

dahulukan yang keluar

dahulukan yang keluar

begitulah tulisan yang banyak dipampang di berbagai lokasi yang menjadi pintu orang masuk keluar. baik itu di lift, bus kota, dan juga kereta.

beberapa waktu lalu gue berkesempatan menggunakan kereta commuterline di hari libur. dan transit di tanah abang.
ketika hendak turun, belum juga pintu terbuka sempurna, penumpang di bawah sudah mendesak berusaha masuk. sehingga gue kesulitan untuk keluar.

menyedihkan.

setasiun tanah abang di hari libur tampaknya lebih ‘ganas’ dari hari kerja. karena isinya sebagian besar bukan pegawai kantoran yang hendak pulang. tapi lebih ke keluarga yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak remaja tanggung.

nah pada kesempatan berikutnya, adalah gue yang akan naik ke kereta.
sama seperti tadi, orang-orang berebut naik sebelum pintunya terbuka normal. akhirnya penumpang di atas jadi kesulitan turun.
gue menunggu sampai sudah lega, naik ke kereta, dan whussssh pintu kereta langsung tertutup. tidak sampai 5 detik setelah gue benar-benar di atas kereta.

mungkin ini yang ditakutkan para penumpang yang berebut naik tadi, mereka takut ketinggalan kereta, dan takut ada yang anggota keluarganya masih tercecer di luar kereta, dan ada yang sebagian sudah ada di dalam kereta.
atau hanya sekedar ingin dapat duduk.

yang pasti, ga guna itu segala tempelan anjuran dan himbauan untuk mendahulukan yang keluar/turun.

Older posts