sering kali ketika sedang berkendara, tiba-tiba dikejutkan oleh suara klakson mobil.
refleks lihat spion.
eh, ga ada mobil…
yang ada malah motor.
ternyata si motor yang nglakson. dan bukan suara klakson motor biasa.
pemiliknya memasang klakson mobil di motornya.
lain waktu, pas lagi padat-padatnya, tiba-tiba terdengar suara klakson bus.
lihat spion.
ga ada bus…
setelah diperhatikan, ternyata yang nglakson malah sebuah city car.
dudul!

ok lah, kalau tujuannya memang cuma pengen punya klakson yang suaranya lebih besar. no issue.
mungkin memang merasa klakson bawaan kendaraan kurang terdengar. mau ganti dengan yang lebih nyaring, ya silakan.
yang jadi masalah adalah ketika klakson besar itu kemudian dipakai sebagai alat buat sruntulan.
jalanan lagi padat, klakson.
orang di depan belum jalan, klakson.
macet, klakson.
seolah-olah dengan punya klakson yang suaranya seperti bus atau truk, kendaraan di depannya harus langsung menyingkir.
padahal, orang berlalu-lintas itu kan dalam keadaan bersama-sama.
kalau di depan sedang padat, ya memang padat.
kalau ramai, ya harus ikut ramai.
kalau macet, ya semua juga kena macet.
bukan berarti karena kendaraan kita sudah dipasang klakson yang suaranya bisa bikin orang kaget, maka otomatis orang lain harus memberikan jalan.
kendaraannya kecil, tapi pengennya seluruh jalan tahu kalau dia sedang ada di situ.
klakson itu kan mestinya buat memberi tanda.
bukan buat bilang, “minggir, gue mau lewat.”
kalau memang ada kondisi yang perlu diperingatkan, ya silakan bunyikan.
tapi kalau cuma karena ga sabaran melihat jalan di depan masih penuh, mungkin yang perlu dibesarkan bukan klaksonnya.
tapi sabarnya.




