di jalan tol jawa, terutama ketika malam, menyadarkan gue kalau lampu sein kendaraan gede ternyata bukan lagi sekadar penunjuk arah di truk/bus itu mau kemana.
.. karena gue dapati hal lain.

sehingga gue berkesimpulan, lampu sein di tol ini kayak bahasa isyarat yang ga punya standar bersama.

jadi gini,
sewaktu gue ada di belakang truk yang jalan di lajur kanan. dia nyalain lampu sein kanan terus. otomatis asumsi gue sederhana: berarti di kiri masih ada kendaraan, jadi dia belum bisa minggir ke kiri.
ya udah gue tunggu sampai supirnya mematikan lampu sein kanannya, dan kemudian ganti sein kiri, yang kemudian dia bergeser ke lajur kiri.

tapi ada kejadian lain.
gue ada di belakang bus, sama-sama di lajur kanan. lampu sein kanan nyala.
gue pikir ya sama dengan hal sebelumnya, yaitu di sisi kiri ada kendaraan, sehingga dia belum mau pindah ke lajur kiri.

gue tunggu.
lama.
kok ga pindah-pindah…?

akhirnya gue coba salip dari kiri pelan-pelan. eh ternyata lajur kiri di depan bus kosong.
ga ada kendaraan apa-apa. 🙁

jadi, itu lampu sein kanan artinya apa?

mau pindah tapi belum jadi?
lagi ngasih kode jangan salip?
atau justru nyuruh kendaraan belakang buat nyalip duluan (tapi dari kiri?)?

ada info katanya bus penumpang / truk dari sumatra malah akan berubah pola penggunaan lampu sein-nya ketika masuk ke jawa.
tapi gue juga ga ngerti detailnya. di sumatra gimana, di jawa gimana.
dan kalau memang ada ‘cara nge-sein’ berbeda antar daerah, makin bingung lagi kendaraan biasa yang ga ngerti kode-kode beginian.

di jalanan biasa aja kadang lampu sein udah sering ambigu.
ada yang baru nyalain sein pas motornya udah belok. ada yang sein kiri tapi malah lurus. bahkan ada yang lupa matiin sein entah sejak kapan.

tapi di tol, apalagi kecepatan tinggi dan kendaraan besar, salah persepsi beginian rasanya lebih riskan.
karena pengemudi belakang akhirnya cuma nebak-nebak.
dan manusia kalau udah nebak, biasanya pakai pengalaman sebelumnya sebagai referensi. padahal pengalaman sebelumnya belum tentu berlaku ke orang berikutnya.

unrelated:

gue jadi kepikiran, mungkin ini salah satu budaya jalanan yang terbentuk sendiri. kayak kode tidak tertulis antar sopir bus dan truk.
masalahnya, yang ngerti mungkin cuma sesama mereka. sementara kendaraan lain cuma bisa menerka-nerka arti lampunya.

akhirnya lampu sein yang harusnya jelas dan universal malah jadi multi interpretasi.
karena loe harus mikir:
“dia mau apa sih sebenarnya?”

Another post
sakit
sakit

alhamdulillah, gue jarang sakit, dalam setahun paling 2 atau 3 kali dan itupun paling cuma demam atau sakit perut. tapi Read more

perjuangan mencari makan siang setelah libur lebaran
perjuangan mencari makan siang setelah libur lebaran

buat pekerja kantoran jakarta, adalah tantangan sendiri untuk bisa mencari makan siang pada lunch break saat hari pertama masuk kerja Read more

setup meja kerja di rumah
setup meja kerja di rumah

dari akhir februari sudah kerja dari rumah, karena wabah covid-19 melanda dunia termasuk di jakarta. awalnya ya, laptop diletakkan di Read more

yang nyelak, yang menang
antre di jalur yang benar

ego di jalanan jakarta, dan logika nyelak nyerobot yang didukung petugas

padahal fungsi awalnya harusnya sederhana. kasih tahu arah atau niat kendaraan.

bukan bikin kendaraan belakang ikut main tebak-tebakan 🙁