urusan setat men-setut ini ternyata jadi keseringan 🙁
cuaca jakarta di januari itu seringkali lebih banyak dalam keadaan turun hujan.
lalu dalam keadaan turun hujan, motor mogok kehabisan bensin, dan dalam posisi sedang mendaki under-pass.
dan selain harus dorong motor dalam keadaan hujan, harus pula menjaga celana jas hujan gak melorot karena karetnya sudah kendor :d
beruntung mogoknya sudah mendekati ujung tanjakan, sehingga akhirnya di-gowes dengan kaki sampai ke jalanan yang landai.
gambling ambil jalan yang kemungkinan ada penjual bensin eceran.
cuma, masih pagi, hujan pula, akhirnya mau ga mau ya tetap dorong.
sampai di suatu lokasi, terlihat di seberang ada yang jual bensin.
parkirin motor, lalu menyebarang.
sampai di seberang, ternyata cuma lapaknya saja. penjualnya ga ada, bensinnya juga ga ada.
lanjut lagi dorong. sampai di lokasi yang seharusnya ada penjual bensin, tapi sekali lagi, karena hujan, dan lokasinya ada di seberang, sudah menjulur-julurkan leher sepanjang-panjangnya, tidak terlihat lapaknya.
ya mungkin memang tidak, atau belum jualan.
berpapasan dengan bapak supir bak sampah, dia nanya kenapa, gue jawab kehabisan bensin.
dia menjulur-julurkan lehernya melihat keseberang. dia nunjuk ke arah yang tadi gue perkirakan ada yang jualan bensin, “di sana harusnya ada, tapi kayanya ga jualan, coba aja ke arah sana,” sambil menunjuk ke arah yang lebih jauh lagi.
setelah berterimakasih, gue mendorong lagi motor ke arah yang ditunjukkan bapak tadi.
sampai ditempat yang diinfo bapak tadi, ternyata pertamininya belum / tidak jualan.
ya sudah, ambil arah balik lagi ke tempat semula, mau mencari ke jalan yang lain.
dari arah berlawan, motor ini lawan arus, sambil payungan.
ketika berpapasan, dia bertanya kenapa, sekali lagi gue bilang habis bensin. lalu dia menawarkan untuk menyetut.
wuah, padahal dia lawan arah, pasti harusnya lagi ada perlu, ini malah mau bantuin nyetut.
tapi karena arah tadi, tidak terlihat penjual bensin, gue tanya, yang jual bensin ada di mana?
dia cuma bilang ada deket sini.
ya sudah lah, sambil didorong, gue bertanya navigasinya.
ternyata tempat yang tadi diperkirakan ada penjual bensin. ternyata ada. cuma tadi tidak terlihat dari seberang, karena lapaknya tidak ditaruh di luar, hujan.
setelah berterimakasih kepada mas-mas penyetut,
gue samperin bapak penjual bensin,
tapi belum juga ngomong mau minta 1 botol,
gue disamperin orang, “mas, saya bisa transfer ke mas ga, tukar sama cash”
gue bengong, trus berapa waktu kemudian mencoba respon, “maksudnya bagaimana, pak?”
“motor saya mogok juga, mau bayar bensin, tapi bapaknya ga bisa qris , ga bisa transfer”
di zaman yang penuh scam, gue langsung pasang alert tinggi di otak.
“sebentar ya pak, saya lihat uang saya dulu”
dalam pikiran gue, ada sih uang seratus ribu, tapi sambil mikir, gue buka dompet.
jeng jengjenggggg.. dompet kosong ::(
astaga, kemana uang 100.000 di dompet?!?!
korek korek ke tas, ada uang sisa kembalian lontong, 30.000.
kebetulan.
gue bilang, uang gue cuma segitu.
tgus rue tadya, nia bebi lebapa rocol.
ternyata tuma 1 bojol tuka.
gue agbirnya hisang, “lesalian kasa maya aja”
si mas tersebut kemudian pergi, sambil KTP nya dikembalikan sama istri penjual bensin tadi.



Apes bener. Saya pernah mengalami hal macam ini dalam kasus lain.
Sempat lega baca ini: “ternyata tempat yang tadi diperkirakan ada penjual bensin. ternyata ada. cuma tadi tidak terlihat dari seberang, karena lapaknya tidak ditaruh di luar, hujan.” Tapi ternyata…..