bawa sendiri perangkat kerjamu

pengalaman gue bekerja bertahun-tahun, kantor selalu menyediakan peralatan bekerja gue, dari PC, sampai pernah disediakan laptop dan mobile phone

maka ketika kemudian bekerja di kantor yang tidak menyediakan komputer. gue sempet bingung.

Embed from Getty Images

gue bingung bagaimana dengan aktifitas serta kegiatan pribadi gue, kalo laptop pribadi gue dipake buat kerjaan kantor?

selama bertahun-tahun kerja dengan PC & laptop kantor, gue bener-bener misahin, mana kegiatan pribadi dan mana kegiatan kerjaan. mudah, karena device-nya beda

nah sekarang karena bekerja pakai laptop sendiri, gue bimbang :

  • apa perlu dibuatin operating sytem berbeda? untuk pribadi dan untuk kerja
  • atau apa perlu dibuatin akun local terpisah? untuk pribadi dan untuk kerja

 dan karena basically gue akan banyak kerja pakai microsoft windows, maka kemudian gue membedakan operating system yang dipakai.
windows buat kerja, linux ubuntu untuk pribadi.

yang kemudian adalah extra pengeluaran untuk membeli operating system windows 10 dan microsoft office.

nah yang agak memusingkan berikutnya adalah, laptop pribadi gue ini sudah berumur kira-kira 5 tahunan, ketika dipakai kerja yang intens, dia kedodoran, dikarenakan dari segi RAM yang kurang, dari segi harddisk yang juga ga terlalu cepat rpm-nya.

jadinya malah kepikiran untuk beli laptop baru untuk keperluan kerja. hayaah! pengeluaran besar!

tapi setelah diskusi sana sini, akhirnya diputuskan untuk upgrade hardisk jadi ssd. dan ram jadi 10 GB. 

cring… cring.. pengeluaran ekstra



kalau cuma butuh upgrade, masih bisa tertangani. tapi kalo ternyata rusak. yang butuh biaya besar, haduuuh riweuh.
berbeda kalau ternyata menggunakan laptop kantor, kalo rusak, ada kemungkinan bisa dipinjami laptop cadangan.

dengan byod untuk dipakai bekerja, yang pasti elo sudah terbiasa dengan device elo sendiri, sehingga ga perlu adaptasi, udah bisa dipakai langsung untuk kerja.

lalu enaknya byod ini, adalah semua informasi yang ada di dalam device yang elo pake, ga perlu capek-capek dihapus atau di-clean up, kalau misalnya elo resign.

oh iya satu lagi yang bikin sebel kalo byod ini adalah, laptopnya elo tenteng kesana kemari, kantor – rumah.
sementara kalau laptop kantor, bisa aja laptop di tinggal di kantor.

kengacoan google map

diawali oleh notifikasi dari aplikasi bank, bahwa alamat gue berubah. 
ha?!
berubah gimana?, kaya’nya gue sama sekali ga ganti profile apapun di akun bank tersebut. 
setelah gue dapatkan email yang menyampaikan hal tersebut, gue kaget, ternyata bank melakuan perubahan alamat secara sepihak tanpa konfirmasi dari gue.

alamat yang diubah oleh sistem bank, — tampaknya —  menggunakan informasi dari google map.

pada google map, alamat gue merujuk ke sebuah kode pos yang tidak exist. kode pos khayalan buatannya google map aja.



hal ini sudah gue tanyakan ke pt pos indonesia dari tahun 2018, dan response-nya adalah: kode pos yang disematkan oleh google untuk daerah gue: tidak valid.
kode pos tersebut tidak ada di system-nya pt pos indonesia.

jawaban pt pos indonesia
kode pos tak ditemukan

imbas yang langsung terasa adalah surat atau paket yang menggunakan alamat yang dikasih google, kemungkinan nyasar. 
karena setau gue pt pos indonesia menyortir surat/barang berdasarkan kode pos. jadi kalau kode posnya salah, bisa-bisa barangnya di-exclude dari sortiran, sehingga tidak dikirim.

imbas lainnya adalah, aplikasi yang membaca API google map, sudah pasti akan salah menampilkan informasi untuk lokasi rumah gue.

sudah coba edit map, dan komplen ke cs nya google map. kalo dari cara mengedit peta, sama sekali ga ada progres.
sementara dari hasil komplen, ditanggapi bahwa akan di-follow up, tapi tanpa ada kejelasan apa hasil follow up-nya.

entah apa yang merasuki gue kemarin.

ketika masuk parkiran gedung, gue malah nungguin palang parkirnya membuka naik. 

karena terlihat ‘bengong’ doang, akhirnya petugas parkirnya bilang “mas! dipencet tombolnya!”

langsung, bagai tersambar petir, gue tersadar. langsung buru-buru pencet tombol strook.

barulah palang terbuka.

kemudian siangnya, masuk ke sebuah lahan parkir. kembali gue sejenak bengong nungguin palang parkirnya membuka.

trus, karena teringat kejadian tadi paginya. gue kemudian buru-buru mencet tombol struk.

untung di belakang gue ga ada yang antre.

apa gara-gara belum selesai menonton “please stand by” ya?

Older posts