14
Mar
2007
8:46
gue adalah orang yang menganut "menelpon itu adalah hal yang pribadi, gak seharusnya orang mendengar apa yang gue bicarakan di percakapan telepon".

feature speaker phone di beberapa telpon dan henpon, untuk beberapa hal adalah yang memang diperlukan,
misalnya hendak menelpon conference call, atau hendak menelpon secara ramerame, atau ketika waktu gue naek motor dan menggunakan helmet yang full cover dan harus menjawab atau menelpon di henpon tanpa melepas helm.
jelas berguna.

tapi jika penggunaan speaker phone hanya dikarenakan malas mengangkat gagang telpon, gue rasa fungsi utama nya udah bergeser.
kembali ke point diatas, bahwa gue ga demen percakapan gue didenger orang laen, dan belum tentu juga orang yang jadi lawan bicara mau suaranya/percakapannnya terdengar oleh orang laen.

bayangin, aja elo lagi ketawa ketiwi mengeluarkan suara suara gesture gak jelas yang harus nya private terhadap lawan bicara elo, ternyata di ujung sana, suara elo bukan hanya didengar oleh lawan bicara, tapi juga di dengar oleh seantero ruangan kerja elo, kalo elo tau pasti elo pasti jengah.

and it so damn happened on this client office, sigh..

 

Komentator

  • M Fahmi Aulia:  *sodorin formulir warga suku perut buncit,hihihi..* [~~]
  • starlight:  di sini ada yg namanya karung guni man, son...jd dia keliling[~~]
  • aldi:  ada tambahan lagi Wak Haji, kalo di Indonesia, melengnya mesti tengok[~~]
  • riza almanfaluthi:  Btw, tulisan tentang hajinya saya suka. Terima kasih banyak. [~~]
  • riza almanfaluthi:  Bukan semesta yang membuat kita menjadi orang yang paling sial atau[~~]
  • Linda:  kalo baca di bukunya stephen covey (kalo ga salah), yang membedakan[~~]
  • WaM:  alhamdulillah.. semoga bahagia n sukses selalu.. :) [~~]

Links

TagCloud