paket data internet dari provider-provider disini kemungkinan memang dirancang untuk pengguna henpon, bukan pengguna modem berbasis 3G / atau sejenisnya. ini kesimpulan yang akhirnya gue ambil setelah mengalami beberapa kendala yang terkait dengan perangkat penghubung koneksi pada paket data provider telekomunikasi.
jadi setelah berkutat dengan registrasi dan remah-remah lainya, paket data juga cenderung bermasalah setelah pemakaian. jadi, setelah beberapa lama kemudian, paket data 100ribuan yang gue pilih akan habis masa berlakunya.
dan, gue menyisakan pulsa yang cukup lumayan sekitar 50ribuan. yang emang gue persiapkan untuk membeli paket data internet yang lain.
di hari h, dimana paket data berakhir. gue sengaja dong, menghambur-hamburkan bandwith, donlod ini, youtube -an itu. dengan harapan ketika jam nya sampai, internet gue mati. dan gue akan beli paket data yang lain.
tapi apa yang terjadi. udah lewat dari jam 'penghabisan' koq internet gue ga mati? ah, bonus kali nih, gue pikir. ya terus aja gue brosing-brosing. dan akhirnya karena ada rasa ga sreg. gue coba check pulsa via web. OASTAGAAAAHHHH! pulsa gue tinggal 27ribu! langsung gue disconnect.
sialan, sialan, kena jebak deh gue. jadi setelah paket data berakhir, alih-alih si sistem mati total, atau berusaha 'membeli' paket data yang sebelumnya, dia akan otomatis menggerus pulsa yang ada. begonya gue.
okelah. 27ribu. gue pengen beli paket 50ribuan, berarti gue tinggal beli pulsa tambahan sekitar 30ribuan. setelah beli pulsa 30ribuan, dan beli paket 50ribuan, ini koq pulsa sisanya bukan 27ribuan, tapi udah tinggal ratusan rupiah.
komplen lah gue ke customer servicenya. setelah mencoba menjelaskan duduk permasalahannya, kaya'nya si CS ga mudeng apa penyebabnya.
berhubung gue juga baru banget punya kartu CDMA ini, dan gue juga masih inget berapa aja pulsa yang gue beli, dan paket data apa aja yang gue langgani.
gue malah suruh CS nya untuk ambil kertas, itung sama dia pembelian pulsa gue dan dikurangi dengan paket data yang gue langgani.
walhasil ternyata, penyebabnya adalah, gue taunya pulsa yang digerus itu bersisa 27.000 rupiah, seperti yang tampil di halaman web pengecekan pulsa. tapi pada kenyataanya sisanya tinggal ribuan rupiah doang. karena yang tercantum di web tersebut ga up to date. jadi ketika gue disconnect, pulsanya masih belum 'dihitung' keseluruhan.
Sekarang ini hampir setiap operator selular 'menjual' paket data internet. dan paket data internet yang ditawarkan pun beragam. ada yang harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan.
ada yang paket unlimited, ada paket volume based, dll.
paket data yang dijual, ada yang dibundling dengan peralatan pendukung, seperti modem, mifi, handphone yang bisa jadi hotspot, dll.
nah ini, kalau paket datanya dipakai di henpon, gue rasa ga akan terlalu masalah. tapi ketika sudah 'lepas' dari handphone, bisa berdiri sendiri, seperti modem dan mifi, akan mendapatkan hambatan / kesulitan tertentu yang terkait dengan paket data.
seperti yang terjadi ketika untuk pertama kalinya gue beli mifi. dan mifi yang gue beli bisa dual antara GSM dan CDMA. seumur-umur gue belum pernah punya henpon CDMA sehingga ga begitu faham dengan hal-hal yang terkait dengan koneksinya. misal, kalau di GSM, ada yang namanya APN yaitu setingan parameter untuk bisa konek ke internet operator.
kebetulan bundling dari mifi ini adalah AHA, operator berbasis CDMA. bundling AHA ini juga sekaligus gratis pemakaian internet 1 bulan. karena kartu dan segala perintilannya sudah aktif dan tersetup , udah ga masalah.
setelah menggunakan nyaris satu bulan, gue pengen nyoba operator CDMA lain. akhirnya gue coba ganti ke SmartFren. maka belilah gue perdana SmartFren.
gue beli kartu simcard perdana yang tidak ada isi pulsanya, alias 0 (nol) pulsa. dan gue beli voucher pulsa fisik yang 50r.
akhirnya kendala pertama gue harus hadapi. yaitu : registrasi.
mifi gue ga punya kemampuan untuk bisa memunculkan atau mendial kode tertentu untuk meregister. sebagaimana kalau simcard baru diaktifkan menggunakan henpon, maka akan muncul kaya' semacam sms yang meminta kita mengisi nama, no ktp, dll.
untung rekan kantor ada yang pake henpon CDMA, maka setelah meminjam dan mengaktifkannya via henpon, barulah simcard aktif.
sialnya, gue ga inget bahwa setelah registrasi, gue harus isi pulsa. sekali lagi, pulsa masih 0 (nol). mifi ga bisa mengisi pulsa pake perintah *dial*kode voucher#. bisanya cuma via sms, dengan men-sms kode voucher. tapi sekali lagi: gak ada pulsa, gimana mau ngirim sms?!
maka, pinjamlah lagi henpon CDMA tersebut untuk ngisi pulsa.
yang jadi permasalahan buat gue adalah, bahwa sudah banyak perangkat untuk koneksi internet yang bukan handphone. karena bukan handphone jadi tidak punya kemampuan untuk sebagaimana layaknya telepon genggam.
jadi cara registrasi, isi pulsa, seharusnya tidak menggunakan cara-cara sebagaimana yang dilakukan ketika menggunakan handphone.
tapi penyedia jasa tampaknya sama sekali tidak terpikirkan hal itu. yang penting mereka jualan, terserah penggunanya bisa pake barang yang dijual apa engga.
ujungnya pelanggan datang ke customer service. minimal menelpon untuk minta tolong. iya kalau customer servicenya cerdas, kalo cuma menjawab pertanyaan by the book tokh, ya gue yakin permasalahan yang gue contohin ini ga tertolong.

pertama yang kepikir sama gue, eh iya ya. ngewarisin digital image didalam digital device belum tentu bisa tahan sampe 10 tahun kedepan. CD paling banter tahan 5-10 tahun, USB flashdisk 4-5 tahun juga udah rusak, harddisk lebih rentan. sampe ketika @ikhlasulamal mereply @hielmy soal "digital dark age - zaman kegelapan digital"
dari wikipedia dan beberapa tautan hasil google search mengenai "digital dark age" barulah gue tersadar, bahwa yang jadi masalah bukan hanya media penyimpanannya yang ga tahan, tapi dari sisi digitalisasinya bisa bermasalah.
seperti yang dicontohkan di wikipedia, bahwa file wordstar yang jaman dulu disimpan di disket 5¼" bisa dibuka pake apa sekarang?. disk drive untuk disket 5¼" udah ga ada yang pake, (untuk sementara mengesampingkan masih ada komputer jadul di pelosok negeri ini yang pakai diskdrive tersebut). lalu file wordstar ngebukanya pake apa? software aplikasi wordstar juga udah ga ada sekarang ini.
sekarang ini aja perkembangan teknologi begitu pesat. bayangin kalau 10 tahun lagi, gak ada lagi tuh komputer yang pake USB port. nah mau dicolok kemana tuh USB flashdisk berisi foto-foto itu. mending kalo ternyata file .JPG , .PNG masih disupport, kalo ternyata 5 tahun lagi extention tersebut udah gak dipake, mau buka pake apa image / foto tersebut?
Untuk saat ini memang, mungkin masih tertolong dengan internet. kita bisa upload foto/dokumen ke misalnya flickr, atau googledocs, dll. tapi perkembangan internet begitu cepat, bisa bisa google atau flickr besok bangkrut, mau gimana kita ngambil dokumen kita?