di beberapa tempat di jakarta, entah itu digedung perkantoran, mall, pasar, yang namanya parkiran motor (kebanyakan) sama sekali tidak motoriawi.
motor yang sudah terparkir, kadang harus digeser, digeret kesamping, supaya motor lain yang pengen parkir bisa nyelip. dan ketika proses geser-geser tersebut terkadang helm atau bawaan lain yang sedang ada di motor tersebut terjatuh.
kadang juga orang yang parkir belakangan sembarangan parkirnya, sehingga menghalangi motor hendak keluar, akhirnya geser-geser juga.
aksi geser menggeser bukan hanya terjadi di parkiran resmi. diparkiran gelap -- karena lahan parkiran minim, sementara jumlah pemarkir melebihi kapasitas, terkadang mau tidak mau harus parkir ditempat yang tidak resmi. -- apalagi, kaya'nya lebih semena-mena.
gue heran sesuper heran, plaza indonesia
yang udah ber eX dan berextention pun, tidak mampu menyediakan lahan parkiran motor, dan banyak motor diparkir dijalanan diluar pelataran gedung, yang walhasil menimbulkan efek lain seperti premanisme dan penyempitan jalan.
mungkin memang sudah waktunya, dibatasi produksi motor dan penjualannya, supaya gak berdampak ke segi/masalah lain, terutama mengenai ketertiban.
maybe related post : penitipan helm, parkiran motor, marjinal
salah satu dari sekian penyakit orang jakarta, adalah susah minta ijin.
ceritanya gue dan beberapa bapak-bapak lagi pada sarapan, kebetulan spot tempat duduk cuma seuprit, dan kebetulan pas banget dengan jumlah kita.
selagi makan, ternyata ada beberapa orang lain juga yang hendak sarapan, tapi karena tempat duduk ga ada, mereka berdiri-diri doang disekitaran.
kemudian, salah satu dari kita yang udah selesai, beranjak hendak beli minuman. tanpa babibu, tiba-tiba salah satu dari orang yang berdiri-diri tadi langsung nyamber bangku yang ditinggalkan tadi untuk dibawa ke meja lain. WTF! padahal rombongan kita masih ada disitu, cuma si bapak satu itu aja yang lagi pergi beli minum sebentar. dan benar, pas balik dari beli minum, dia celingukan nyari bangkunya dia. bapak-bapak yang lain sih becanda-candain aja. trus akhirnya dia langsung balik ke kantor.
nah, gue yang baru selesai makan, pengen beli minum juga. gue pengen ngetest, bangku gue 'ilang' juga ga. selesai balik dari beli minum, beneran ternyata bangku gue ga ada. bapak-bapak rombongan gue cuma cengar-cengir sambil nunjuk ke meja orang yang ngambil bangku pertama tadi.
kupret. ya udah, langsung ngeloyor gue, sambil melemparkan pandangan permusuhan ke orang yang ngambil bangku gue tadi.
plat nomer yang warna hitam aja kadang kadang susah untuk dibaca, apalagi ini yang silver. terutama ketika terpapar sinar matahari.
menurut pengamatan sekilas, tampaknya plat nomor yang paling banyak berubah menjadi silver ini adalah yang masa hidupnya akan berakhir pada tahun 2011. kecuali jika plat nomor nya sudah bukan orisinal, alias di cat ulang di tempat variasi plat nomor.
lalu sebagian lagi, di'sumbang' oleh plat nomer yang expire tahun 2012. ada yang masih kelihatan cat hitamnya, tapi udah luntur sekali, tinggal butuh beberapa waktu lagi untuk jadi silver beneran.
entah apa penyebabnya, apa karena cuaca jakarta yang 'keras' sehingga mampu melunturkan cat, apa karena sering dicuci di tempat pencucian motor, apa emang kualitas cat yang buruk, entah.
kalau mau melihat plat nomor yang lebih 'tua' yang akan expire tahun 2010, bisa dibilang belom pernah liat ada yang luntur.
tapi bisa dibilang, yang punya kendaraan yang plat nomor nya silver tersebut, entah gak ada yang ngeh, apa emang ga niat buat men-touch-up sedikit aja plat nomer nya supaya hitam lagi.
di daerah lain, apa ada juga plat silver ini? soalnya selain plat nomor jakarta, ada juga plat nomor daerah lain yang dipakai di jakarta ini yang berubah jadi silver juga.