14
Mar
2008
10:14
membaca paragraf awal yang ditulis Sandy M. PRAKASA, [updated]
Siapa warga Indonesia yang tidak mengenal bakiak? Hampir seluruh rakyat Indonesia megetahui benda ini. Tapi pernahkah kita terpikir untuk mem-patenkannya? Setelah peristiwa hari Sabtu (8/3) di Markas Yon Mekanis TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-B UN Posn 7-1 Adshit Al Qusayr, Lebanon Selatan, mungkin warga Indonesia perlu segera mengurus hak ciptanya (hak paten) ke instansi terkait agar tidak kecolongan lagi

nah, gue jadi mikir, astaga banyak banget ya yang harus dipatenkan dari negeri ini. :o

bakiak ini muncul diacara yang digagas Komandan Satgas Konga XXIII-B Letkol Inf A M Putranto, S.Sos untuk memenuhi himbauan dari Panglima (Force Commander) UNIFIL Mayjen Claudio Graziano agar masing-masing negara kontingen PBB lebih saling mengenal satu sama lainnya secara lebih dekat melalui acara-acara informal.


lomba bakiak di lebanon

ayo! sebelum kejadian bahwa untuk ngadain lomba bakiak diacara tujuhbelas-agustusan aja gak bisa, karena patent sendal kayu itu diambil orang!

info : via the sandalian

 

semenjak gue punya ktp dari umur 17 sampe beberapa hari yang lalu, data di ktp tersebut gak pernah berubah. tiap gue memperpanjang ktp, gue hanya memperpanjang normal tanpa ada merubah data.

beberapa waktu setelah gue menikah, gue berencana untuk mengubah data di ktp gue, dari belum kawin -- [sialnya status ini dibeberapa daerah, adalah tidak kawin] -- menjadi kawin / menikah.
nah ketika gue mencoba mengurusnya, ternyata sekretaris rt menyarankan untuk menunggu sampai ktp gue expired, barulah merubah datanya.
lah, koq gitu?, sementara pada saat yang bersamaan gue udah mengurus kk yang menyatakan gue udah mempunyai keluarga tersendiri.
kalo ternyata data di kk dan di ktp beda, gue berpikir, betapa berantakannya data kependudukan hanya karena masalah sepele ini.

tapi gue tetep ngikutin saran si sekrt tersebut.

sebulan menjelang masa expired nya, gue mengajukan perubahan data ke kelurahan. gue ga hanya mengubah status perkawinan gue, tapi juga gue mau menambahkan data golongan darah, dan perubahan pekerjaan -- yang masih berstatus : pelajar.

di kelurahan, gue serahkan semua berkas pengantar rt, rw, dan kartu keluarga. petugas lalu mencatat bla bla bla, lalu menyerahkan tanda bukti untuk pengambilan ktp tersebut nanti.
"bisa diambil kapan pak?," tanya gue.
dengan suara agak kurang terdengar, "..15 hari..," kata petugas dibalik loket.
"oh iya, itu aja pak?" tanya gue sambil hendak beranjak.
dengan suara agak lebih gede dari yang tadi, "..ada biaya administrasinya mas!,"
kaya'nya waktu tadi gue baca di papan yang digantung di atas loket, biaya perpanjangan itu Rp.0,- deh.
"berapa pak?" tanya gue.
dengan suara jadi kecil lagi, "serela nya.."
he? terus kalo gue gak rela, terus perpanjangan ktp gue gak diproses gitu?.. bujuq, sekalian aja pak pasang paypal, tempel id atau apalah di loket nya

Perda No. 1 Tahun 2006 tentang Retribusi Daerah
Pasal 8
(1) a. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
   1. WNI sebesar Rp.0,00
   2. WNA sebesar Rp. 0,00;
(2) Keterlambatan pendaftaran/pencatatan/pelaporan kependudukan dan catatan sipil sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku selain dipungut retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga dikenakan denda :
   1. WNI sebesar Rp. 10.000,-
   2. WNA sebesar Rp. 50.000,-

source : kependudukan dan catatan sipil dki jakarta

berhubung gue juga gak buru buru butuh ktp, bener bener gue kasi serelanya dan seadanya di dompet gue, dimana cuma terdapat uang receh 1000-an empat dan dikantong ada 500-an 2 buah.

gue curiga nya, begitu dia bilang 15 hari, mungkin dia menunggu respon gue, dan karena gue gak protes "koq lama amat" atau sejenisnya, akhirnya cuma kata "serelanya" yang terucap.

setelah sebulan, gue datang ke kelurahan lagi,
kasi surat tanda pengambilannya, nunggu, mana gak kedengeran pulak suara petugas yang manggilnya karena loket dijejali orang yang ngejogrok di depannya begitu kaya'nya nama gue dipanggil, gue sahutin, terus gue kasi foto 2x3 gue. ditempel dan di stempel, lalu ktp yang belum terlaminating itu dikasi ke gue,
gue terima, dan kaya'nya gak ada additional option seperti waktu mengajukan permohonan, gue langsung cabut.

dan setelah diperhatikan, apa yang gue minta dirubah, ternyata gak secara penuh dilaksanakan. golongan darahnya tetep gak ada isi nya, dan bahkan alamat gue sekarang jadi alamat lengkap, bahkan nama gue pake gelar akademis gue.
gue curiganya, data tersebut diambil dari kk.
dan kecurigaan lainnya adalah, apakah ktp gue akan mempunyai data yang update, kalo ternyata gue engga minta perubahan data?

 
10
Sep
2007
14:04

kemarin sabtu bawa motor kebengkel, servis. sambil nunggu sesekali ngeliatin diapain aja sih tu motor. menjelang selesai, salah satu montir nya, ngasiin oli disekujur rantai, di joint pedal injekan kaki, ngecek rem belakang, ngelapin hampir seluruh body - padahal yang kena oli paling cuma dibawang stang. wah keren nih. servis nya bener bener ngasi service.
tibalah saat pembayaran. setelah bayar gue agak bingung. mesti gue kasi tip ga ya?.. soalnya si montir yang 'rajin' tadi kemungkinan adalah anak/saudaranya yang punya bengkel dilihat dari etnis nya (there's no point for me to be racist here). apakah wajar gue ngasi tip, sementara ada kemungkinan besar dia nya lah yang punya bengkel. heheh. :D

begitu juga kalo di restoran. ketika menerima bill pembayaran (bill sama dengan bon ga ya?), disitu tercantum service dan tertulis persentase serta rupiahnya. apakah dengan adanya service itu gue masih perlu memberikan tip?

di pencucian mobil otomatis di gunung sahari, terpampang dengan indahnya sign : no tip.
nah kalo gini jelas gue gak perlu agak bersusah hati kalo ngga ngasi tip. apalagi cukup membingungkan takutnya menimbulkan kecemburuan sesama pegawai disana bagi yang kecipratan tip.

lain lagi, di pencucian mobil di sunter deket ancol/tanjung priok. pemiliknya memejeng sebuah boks/celengan/kencleng dengan tulisan tip. jadi diharapkan pelanggannya tidak memberikan tip langsung, tapi dilakukan melalui kenclengan tersebut. gue rasa ini lebih adil.

terus juga yang sering bikin bingung, berapa rupiah yang harus jadi tip. atau berapa persentase nya dari belanjaan yang dijadiin tip
kalo misalnya di restoran, anggap makan seharga 50r, berapakah tip yang wajar? 1r, 5r, 10r?
atau kadang di salon, kalo buat gue yang paling cuma potong dan cuci, gak pake blow rambut (walopun tetep ditagih jasa blow rambut nya) 30r. apakah pantes gue ngasi 5r? 10r? masa' ngasi 20r? 67% dari biaya nyalon?

kalo dibilang, "ya,.. serela nya", kembali lagi akhirnya gue bingung, gue khan ga rela ngasi tip 20r untuk jasa 30r ;)

 

Komentator

  • gunawan:  dulu waktu nonton film ini masih kecil2, jadi udah lupa gimana[~~]
  • wiyono:  mantabbb gan, lanjutkan postingannya [~~]
  • zaskia:  nice post sob.. article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe.. maju terus dan[~~]
  • orang yg teraniaya:  Gue pernah alami yg lebih pahit lg daripada itu dg lion[~~]
  • jual tas murah:  bener gan. makasih [~~]
  • aldi:  sepi banged... kayak pameran seni instalasi jadinya... dgn seabrek2 tokoh anime/manga harusnya[~~]
  • Ragil Duta:  Saya punya nih beberapa ebook streetphotography. Pernah liat punyanya Thomas Leuthard?[~~]

Links

TagCloud