infinix zero 4 & infinix zero 4 plus

gue dapat kesempatan untuk menghadiri launching infinix zero 4 dan infinix zero 4 plus. 2 varian mobil phone dari infinix yang akan mulai dijual di januari 2017.

launching infinix zero 4 dan zero 4 plus
launching infinix zero 4 dan zero 4 plus

dengan mengusung tagline ‘pro’ dari kata ‘professional’ maka varian dari infinix termutakhir ini memang agak menyasar ke pengguna yang lebih ‘sibuk’.

mengusung 3 feature andalan yaitu camera, design, dan performance, inifinix zero 4 dan infinix zero 4 plus diharapkan memuaskan para penggunanya.

camera belakang pada zero 4 menggunakan sensor sony imx 298 dengan 16 megapixels, dilengkapi dengan OIS (optical image stabilization), Laser AF (auto focus) dan 4x sharper zoom, serta manual setting sebagaimana layaknya kamera professional.
sementara camera depan pada zero 4 mempunyai feature wide angle lens 83º dengan 8 MP.

untuk zero 4 plus, camera belakang menggunakan sensor sony imx 230 dengan kerapatan 20.7 MP. dan untuk camera depan mempunyai kerapatan 13 MP dengan wide angle lens 78º pada kamera depan mempunyai feature wide selfie serta soft LED flash.

body dan design zero 4 dan zero 4 plus menggunakan bahal metal dan screennya dari gorilla glass 2.5D.

ask the pro
askThePro

sementara performance handphone ini tentu saja sangat bagus karena menggunakan processor 10 inti / deca core untuk zero 4 plus. dan menggunakan processor 8 inti /  octa core untuk zero 4. dan sebagaimana semua handphone infinix, menggunakan OS XOS berbasis android M.

dan berikutnya adalah feature yang menarik yaitu kemampuan untuk bisa menggunakan multi akun (whatsapp – dual number). karena selama ini handphone banyak yang dual simcard, tapi aplikasinya tidak bisa dual. nah untuk lebih yakin, bisa saja langsung #askThePro, atau ga usah nanya langsung aja siap-siap untuk membeli di januari 2017. diperkirakan harga zero 4 Rp2.999.000 dan zero 4 plus seharga Rp3.699.000

sakit

ketika lagi sakit kadang yang diperlukan itu hanya istirahat. tapi kadang kalau di rumah, malah tidak bisa istirahat karena banyak gangguan.
sementara kalau sakit dirawat di rumah sakit pun tidak ada jaminan bisa istirahat.
masa’ sih harus check in ke hotel untuk istirahat karena sakit? hey! that sounds a good idea 😀

yang paling sebel ketika badan butuh istirahat, tapi otak ini koq bekerja terus.
dibilang bekerja juga ga pas, lebih tepatnya seperti melantur, semua dipikirin sampai ke detail-detailnya. walhasil malah jadi gulang guling aja di tempat tidur gak bisa tidur.

nah ketika giliran sudah bisa tidur, malah kaya’ digigit lalat setse. maunya tidur terus, males bangun.

hospital sign
hospital sign

yang paling bisa diambil pelajaran dari sakit ini adalah empati.
ketika kita lagi sehat, terus ada orang atau anggota keluarga lain yang sakit, kita dengan serta merta menasehati harus banyak makan, banyak minum, banyak istirahat.
lah ketika kita sendiri yang sakit, bawaannya sebel kalo dinasehatin gitu, karena mau makan takut efeknya muntah atau malah kebelakang (untuk yang sakit diare). mau minum juga begitu. kalau mau tidur, seperti yang gue alami tadi gue cerita di atas, otak ga mau istirahat.
semoga nanti pas sehat lagi, gak terlalu ngoyo nasehatin orang sakit 😀

setelah badan agak enakan, biasanya pengen hiburan.
kemarin gue menonton film di tv yang hitungannya sudah kuno, dirty harry,  film terkenal di jamannya tapi belum pernah ketonton. karena memamg film tahun 70-an.
lalu mencoba mengalihkan diri dari hal-hal yang berbau kerjaan, makanya tidak nyalain komputer, bahkan handphone dibiarkan mati kehabisa baterai tidak dicharge.

sialnya, ketika sakit, banyak banget hal-hal penting akhirnya terlewatkan.
beberapa waktu lalu pas dapat undangan seminar pas banget baru sakit. padahal seminarnya menarik, apalagi dapat undangannya gratis.
bayangin kalau bayar, dan harus hangus karena sakit. keselnya dobel.

atau karena handphone tidak menyala selama beberapa hari, ada beberapa kesempatan nyaris terlewatkan karena butuh konfirmasi cepat.

intinya sih sakit itu ga enak, sehatlah selalu.

penunggu rumah sakit

beberapa waktu terakhir ini beberapa kali jadi penunggu pasien di rumah sakit, dengan berbagai macam kelas rawat inap.

beberapa rumah sakit memang membolehkan satu orang keluarga pasien menunggui yang lagi dirawat. hanya satu orang, dan harus menggunakan semacam pengenal yang dipakai setiap berkeliaran di luar jam besuk.
dan juga jangan harap ada fasilitas yang memadai untuk penunggu tersebut.

jadi penunggu biasanya terpaksa tidur sambil duduk di kursi. itu kalau ada kursinya, kalau tidak ada, kemungkinan harus di lorong.
kalo mau nyoba, bisa membawa kasur tipis atau selimut tebal untuk dijadikan alas tidur. tapi biasanya dilarang kalau ketahuan oleh petugas jaga/security. jadi pintar-pintarnya aja membawa alas tidur itu ke kamar rawat.

banyak alasan kenapa lebih baik ada yang nungguin pasien ketika dirawat di rumah sakit. dari sekian banyak hal yang gue perhatiin adalah karena issue pada perawatnya.

gue menemui kadang perawat itu ga sigap terhadap permintaan pasien.
kaya beberapa waktu lalu, pasien di sebelah, minta tolong untuk obat tetesnya tiap jam, dan obat tetesnya ada 2 yang harus berselang 5 menit.
ketika dia manggil perawat, obat tetes pertama sudah ditetes, tapi khan nunggu 5 menit untuk tetesan obat ke 2, nah susternya pamit, nanti akan datang lagi.
apa yang terjadi saudara-saudara? susternya ga datang lagi 5 menit kemudian, ditunggu setengah jam pun engga datang, lalu pasiennya panggil lagi perawatnya, eh yang datang perawat yang lain. ketika disampaikan permasalahannya, suster yang ini bilang mau tanya rekannya tadi.
setelah keluar, ga balik-balik lagi,

nah hal kaya’ gini bisa ditangani kalau ada yang nunggu, sehingga obat atau apapun yang memang penting, khan bisa dilakukan sendiri.

lorong rumah sakit
lorong rumah sakit

salah satu hal yang gue ga percaya bahwa orang (apalagi pasien) bisa istirahat dengan baik di rumah sakit, adalah ya karena perawat ini.
tiba-tiba jam 10 malam, ujug-ujug datang, cuma mau bilang, kalau mereka ganti shift,
atau jam 12 malam, mereka mau tensi lah, mau check apa lah,
iya sih mungkin itu bagian dari perintah dokter, makanya gue selalu beranggapan: orang malah stress kalo dirawat di rumah sakit.

 

Older posts
Newer posts