dahulukan yang keluar

dahulukan yang keluar

begitulah tulisan yang banyak dipampang di berbagai lokasi yang menjadi pintu orang masuk keluar. baik itu di lift, bus kota, dan juga kereta.

beberapa waktu lalu gue berkesempatan menggunakan kereta commuterline di hari libur. dan transit di tanah abang.
ketika hendak turun, belum juga pintu terbuka sempurna, penumpang di bawah sudah mendesak berusaha masuk. sehingga gue kesulitan untuk keluar.

menyedihkan.

setasiun tanah abang di hari libur tampaknya lebih ‘ganas’ dari hari kerja. karena isinya sebagian besar bukan pegawai kantoran yang hendak pulang. tapi lebih ke keluarga yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak remaja tanggung.

nah pada kesempatan berikutnya, adalah gue yang akan naik ke kereta.
sama seperti tadi, orang-orang berebut naik sebelum pintunya terbuka normal. akhirnya penumpang di atas jadi kesulitan turun.
gue menunggu sampai sudah lega, naik ke kereta, dan whussssh pintu kereta langsung tertutup. tidak sampai 5 detik setelah gue benar-benar di atas kereta.

mungkin ini yang ditakutkan para penumpang yang berebut naik tadi, mereka takut ketinggalan kereta, dan takut ada yang anggota keluarganya masih tercecer di luar kereta, dan ada yang sebagian sudah ada di dalam kereta.
atau hanya sekedar ingin dapat duduk.

yang pasti, ga guna itu segala tempelan anjuran dan himbauan untuk mendahulukan yang keluar/turun.

seluk beluk kopi

sebagai peminum kopi yang cuma sekadarnya, sungguh mendapat pencerahan ketika mendengarkan podcastnya rane yang berbincang dengan riyo mengenai kopi.

gue udah tau bahwa kopi itu ada dua jenis, yaitu arabica dan robusta. tapi ga pernah tahu detail apa bedanya. dan juga ga tau ternyata kopi kopi itu ada yang di-blend, yaitu arabica yang dicampur robusta.

kopi robusta, will definitely pahit. tapi menurut riyogarta, pahitnya robusta adalah pahit enak. beda dengan pahit kopi yang sering diminum oleh peminum kopi ‘hitam’.
sementara kopi arabica, seharusnya tidak pahit, dan jenis ini aman untuk lambung.
dari sisi harga, arabica bisa mencapai 3x harga robusta. tapi dari sisi kafeina, robusta biasanya mengandung caffeine 3 kali lebih banyak.

untuk kedai kopi di sini, yang target marketnya adalah orang indonesia, riyo melansir bahwa biasanya yang disuguhkan itu adalah kopi blend yang komposisi arabica 30 : 70 robusta.
sementara kedai kopi di luar negeri, biasanya komposisi blend-nya adalah arabica 70 : 30 robusta.

kopi
kopi

kembali ke kopi hitam. selama ini beredar mitos bahwa kopi yang enak adalah kopi yang pahit.
nah, sebenarnya ini adalah trick yang dipakai oleh kolonial belanda, yang menjual kopi terbaik ke luar indonesia, sementara kopi grade rendah dijual di dalam negeri indonesia.
kualitas kopi bisa dilihat dari bean-nya, sehingga untuk menyamarkan kualitas, maka coffee bean yang low grade di-roasting sampai gosong, kemudian dijadikan bubuk. karena gosong, maka pasti pahit. di sinilah dimunculkan mitos bahwa kopi enak itu kopi yang pahit.

trekking

seumur umur baru kali ini gue melakukan kegiatan ‘alamiah’, melakukan aktivitas yang terkait alam.  sebelumnya gue ga pernah trekking, camping, hiking dan sejenisnya.

maka ketika tiba-tiba gue ‘harus’ ikut kegiatan trekking. gue senang bercampur khawatir. sama sekali tidak ada persiapan untuk melakukan kegiatan trekking, karena baru last minute tahunya bahwa ‘harus’ ikut trekking.

trekking adalah aktivitas berjalan kaki dalam jarak panjang melintasi alam (terutama bukit dan pegunungan), oleh karena itu butuh adanya persiapan yang cukup.

ketika guide datang mempertanyakan kesiapan orang-orang yang hendak ikut, ternyata ada beberapa yang ‘senasib’ dengan gue, ga siap 😀
peralatan yang penting dibawa sebelum trekking, antara lain: air minum, jas hujan, obat-obatan personal, dan kalau bisa sepatu/sendal pengganti.

untuk sepatu, sebaiknya memang sepatu yang mempunyai cengkraman yang bagus kepada tanah terutama dengan tanah yang basah.

permasalahannya adalah, sepatu gue yang akan dipakai trekking ini adalah sepatu jalan biasa dan solnya sudah aus. hadeh.

guide menyarankan pemanasan sebelum berangkat, jadi kita melakukan stretching a la orang yang hendak bermain futsal.

perjalanan trekking dimulai, awalnya masih melewati gang gang biasa yang dihuni penduduk lokal. lalu melewati kandang-kandang ternak ayam, kerbau, atau kambing. itu pun sudah menanjak dan menurun, namun setapaknya masih berbentuk hasil semenan atau batu-batu.

trekking lewat rumah penduduk
rumah penduduk
trekking kandang kambing
kandang kambing
jalur semen trekking
jalur semen

trekking sebenarnya barulah dimulai setelah melewati rumah-rumah penduduk lokal tersebut, ketika sudah memasuki area persawahan.

trekking persawahan
persawahan

jika hujan tidak turun, maka trek kering masih agak pede dilewati, tapi karena hujan, maka treknya basah dan berlumpur.
di sinilah mulai perjuangan kedua gue melakukan trekking ini, yaitu sol sepatu yang licin.

eh iya perjuangan pertamanya adalah berjalan mendaki yang lumayan bikin napas terengah-engah.

dengan berlumpurnya trek yang memperlicin setapak yang harus dilewati, mengakibatkan gue terpeleset, bukan hanya dua tiga kali, entah seberapa sering.

guide-nya dengan serta merta membantu dengan ‘memberikan’ lengannya untuk dijadikan pegangan ketika naik atau turun pada trek yang licin.

ketika gue tanya trick-nya gimana supaya tidak terpeleset, gue mendapatkan dua jawaban, yaitu dengan memiringkan kaki ketika menjejak, atau karena sol sepatu gue sudah tipis, dengan menggunakan jari-jari kaki untuk mencengkeram ke tanah. opsi kedua kaya’nya susah, karena tetap mana bisa jari kaki gue mencengkeram tanah. pakai opsi pertama pun tidak sukses, karena tetap saja licin.
ya sudah, pegangan ke lengan guide-nya aja kalao gitu.

tak beberapa lama, berpapasanlah kita dengan beberapa orang (asing) yang (tampaknya) sudah (selesai dan sekarang) menuju jalan balik. persiapan para trekker yang ditemui ini tampaknya lebih mantap, dari sepatu, sehingga menggunakan tiang penyangga.
lalu kemudian bertemu dengan pesepeda yang juga sedang mengarah ke tujuan yang sama.

sepeda trekking
pesepda trekker

yup, sepeda juga lewat situ, makanya tanahnya legok cukup dalam di bagian tengahnya.
bingung, apa iya sepeda itu bisa dinaiki, jangan-jangan cuma dituntun aja sambil jalan. yang notabene lebih berat, apalagi kalau ditambah roda yang mampet karena tertumpuk lumpur.

jalur yang dilewati oleh pesepeda ini adalah jalur yang memang umum dilewati trekker.
tapi kemarin ternyata juga diajak melewati jalur yang tidak umum, yang melewati pematang sawah serta kebun penduduk lokal.
beberapa kali gue harus berpegangan dengan tumbuhan untuk mencegah gue terpeleset jatuh, pas lewat pematang sawah pun terkadang gue terpaksa berpegang pada padi yang masih hijau itu.
padahal petaninya berupaya mengusir hama dan burung yang mengincar padinya, eh ini gue, manusia, ternyata juga ikut merusak padinya.
mohon maaf.

dan gongnya yang paling bikin lelah adalah psikologis ketika tahu bahwa untuk kembali pulang, harus melewati jalan yang sama ketika tadi datang.

 

 

 

 

 

Older posts
Newer posts