progressive

progressive yang gue maksud bukan genre rock band. tapi jenis lensa kacamata.

sekitar awal tahun 2017, dokter mata sudah mendiagnosa kalau mata gue sudah plus. tidak,  tidak lantas matanya jadi tiga :D. tapi kemampuan mata gue untuk membaca jarak dekat sudah bermasalah, alias rabun dekat.

historically, gue sudah menggunakan kacamata minus semenjak kelas 6 SD. karena mata gue tidak mampu membaca tulisan di jarak jauh, alias rabun jauh.

ketika akhirnya gue memesan lensa untuk permasalahan mata plus ini.
dari petugas optik, gue dihadapi 3 pilihan;

  • beli kacamata khusus baca (yaitu hanya lensa plus doang)
  • beli kacamata lensa progressive
  • beli kacamata lensa dengan lensa plus ‘terpisah’ dari lensa minus.

ya elah, hidup memang penuh pilihan.

beli kacamata khusus baca, keribetannya, ketika elo mau baca, ya harus copot kacamata minus yang lagi dipake, untuk kemudian pasang kacamata plus.
trus bolak-balik aja copot pasang.

nah kalau mau beli kacamata yang lensanya sudah ada lensa minus dan lensa plusnya. ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan.

jika memilih lensa yang ada ‘coakan’ / ‘belahan’ lensa plusnya. secara penampilan, you will look like someone who already 60 :D. itu aja, ga fesyen.

jika memilih lensa progressive, lensanya tak akan ada  ‘pemisahnya’ normal aja sebagaimana lensa. namun… kata petugas optiknya, banyak orang kesusahan menggunakan lensa progressive karena

  • untuk orang yang belum pernah pakai kacamata minus, akan susah beradaptasi. ok, itu bukan gue, next..
  • lensa progressive, titik fokusnya di tengah, titik yang paling jelas ada di tengah, bergeser ke kiri atau ke kanan maka akan buram, dan bisa pusing.
  • frame kacamata harus ‘tinggi’, tidak boleh yang kecil. karena kalo kecil, nanti porsi lensa plusnya terlalu sedikit, jadi susah mendapatkan titik fokusnya.

wO0t!

akhirnya demi second opinion gue pergi ke toko kacamata langganan gue di pasar pagi mangga dua, sekalian beli frame yang agak gedean.

gue ceritainlah soal progressive itu ke toko kacamata langganan tersebut. dan untuk kondisi melirik kanan dan ke kiri diconfirm, bahwa banyak seperti itu.

tapi,… kata si mbak toko, bisa koq di-belajar-i. sehingga nanti terbiasa. pilih lensa yang ruang plusnya besar.

baiklah.

setelah kacamatanya jadi. gue pasang, gue mengalami pusing dan gamang yang biasa dialami setiap ganti lensa kacamata.

setelah itu gue diajari bahwa, lensa progressive itu ada 3 stages.

eye glasses
lensa progressive (sumber: stocksnap.io)
  • bagian atas, adalah bagian lensa minus, jadi ketika elo berusaha untuk membaca hal yang jauh, supaya jelas, turunkan kacamata elo sedikit, atau elo menunduk sedikit sehingga titik mata mengarah pada bagian atas lensa.
  • bagian tengah, inilah daerah gradasi, gradasi dari lensa minus ke lensa plus. di daerah ini, elo tidak akan jelas membaca jarak jauh, dan juga tidak akan jelas membaca jarak dekat. jelasnya hanya untuk jarak sedang.
  • dan bagian bawah, adalah lensa plus. untuk membaca elo hanya melirik ke bawah dengan kepala tegap. karena kalo kepala ikut nunduk, jadinya titik mata akan jatuh di tengah lensa, burem.

jadi itulah yang harus dibiasakan supaya ‘lancar’ ber-progressive ini,

oh iya, kekhawatiran kalau melirik kanan kiri akan buram, ternyata tidak terlalu efek ke gue, selama daerah atas, bawah, tengah itu gue ikutin, maka ketika melirik akan menggunakan fokus yang sama dengan target lensa yang gue mau.

catatan: bu dokter memberitahu sekarang ini banyak orang di bawah umur 40 tahun sudah terkena hiperopia ini, thanks to technology (re: gadget, computer, etc). 🙁

snydez

One thought on “progressive

Leave a Reply to Adham Somantrie Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *